Kamis, 11 November 2021

Fathers Day for my life

Pertama aku ingin mengucapkan selamat berbahagia untuk siapapun yang sedang memproklamirkan "Hari Ayah", jaga kebahagiaannya yah juga semoga Allah jaga ayah-ayah kita dimanapun berada. Aamiin allahuma aamiin
Memiliki sosok ranger's or hero dalam keluarga adalah salah satu kebahagiaan yang tak bisa kita ukur dengan kata happy or happiness karena darinya adalah sumber keutuhan yang nantinya mengantarkan kita pada substansi berkehidupan yaitu loving. Namun terkadang uniknya kehidupan adalah menciptakan ragam model kehidupan (rumah tangga), ada rumah tangga yang sempurna kehidupannya ayah ibu kakak adik lengkap, ada rumah tangga yang hidup hanya sepasang suami istri hingga mereka wafat juga ada rumah tangga yang salah satu orang tuanya berpisah entah karena divorce ataupun ajal. Well, apapun kondisinya kehidupan akan terus dilalui dengan apapun kondisinya :)))

Lets talk about father, Hari Ayah adalah titik dimana saya tidak ingin percaya terhadap laki-laki siapapun mau keluarga bahkan saudara saya sendiri, yang sudah mengenal saya mungkin sudah tahu betapa keras dan egoisnya saya ketika berbicara dengan laki-laki, betapa menjengkelkannya saya karena tidak ingin diperintah atau tunduk terhadap apa yang dikatakannya (nb. Jangan dicontoh, itu dulu :))). Yes,  that is me. Satu-satunya kepercayaan yang saya miliki terhadap laki-laki memudar puluhan tahun yang lalu. Ketika sosok yang saya harapkan kehadirannya tiap hari, sosok yang biasanya ketika saya bangun tidur digendongnya, sosok yang menanti saya didepan rumah dengan senyuman ketika saya pulang membawa rapor dengan ranking 1, sosok yang selalu meramaikan rumah dengan lagu-lagu bollywood, sosok yang menjadi role model pasangan kelak, HILANG!! Thats why Kehidupan bagi saya bukan hanya sekedar tentang bahagia sebab kalau kebahagiaan menjadi tolak ukur untuk saya jelas mungkin saya tidak akan menikmati kehidupan. 

Mudah ketika orang mengatakan yang berlalu biarlah berlalu, iya memang,  sayapun tidak menuntut untuk kehidupan berjalan sesuai keinginan saya atau mengembalikan keutuhan keluarga saya tapi hal yang sulit dan tidak banyak orang paham adalah setiap moment dalam hidup akan menjadi memori dan itu kekal. Saya sangat ingin melupakan saat saat ketika ayah mencium kening anak-anaknya dengan tulus, melupakan saat ayah menyuap anak-anaknya, melupakan saat ayah membawa kami keliling kota, atau melupakan moment-moment saat ibu ketar-ketir mencarikan uang untuk anaknya terus sekolah. Tidak mudah melupakan memori saat umur-umur seorang anak penuh dengan angan dengan cita-citanya. 

Besar diantara keluarga yang memiliki prioritas tinggi terhadap pendidikan adalah salah satu kelebihan yang mendorong saya untuk tetap bermimpi sewalaupun kehilangan sosok ayah dalam keluarga adalah tantangan besar namun pikiran kecilku bagaimana merubah itu menjadi motivasi besar bagi saya untuk belajar, menjadi anak pintar kebanggaan keluarga, menjadi yang teratas dalan perankingan dan ya Alhamdulillah semuanya terwujud bahkan menjadikan diri manusia dengan segudang mimpi tentang kebermanfaatan mimpi menjadi pejuang sosial-kemanusiaan terlebih pendidikan bahwa pendidikan tak boleh terhenti hanya karena keterbatasan motivasi, ekonomi bahkan pengetahuan. 

Lalu dengan hal itu apakah menjadikan saya trauma terhadap suatu hubungan ? I said yes, tapi bukan berarti untuk saya tidak ingin menjalani fase kehidupan tersebut (berkeluarga) tentu ingin, sangat ingin. Namun hal besar yang saya perlajari dari itu semua adalah segala hal yang akan dijalani dalam sebuah keluarga tidak bisa dijawab hanya dengan kata ingin. Juga tidak bisa dijawab dengan ungkapan "nggak semua laki-laki seperti itu" iya paham, tentu semua orang bahkan beda. Hanya saja dalam hal ini standarisasi itu perlu, pointnya bukan pada hanya sekedar kenyamanan, bukan hanya pada finansial melainkan Agama. Siap beradaptasi dengan visi-misi juga karakter satu sama lain. 

Dan itu menjadi PR besar dalam diri saya pribadi terlebih dahulu untuk banyak belajar menjadi manusia patuh serta taat terhadap Agama juga suami nantinya, sabar juga ikhlas dan menjadi sebaik-baik perempuan tentunya dengan segala kewajibannya. 

The last aku ingin nitip pesan kepada laki-laki bahwa perempuan yang akan atau sedang bersamamu adalah juga perempuan yang pada awalnya memiliki mimpi serta cita-cita besar dalam hidupnya tetapi mereka redam karena telah memilih bakti kepadamu kepada Agama, Kalaupun kamu tidak bisa membantu atau membiarkannya meraih mimpinya tersebut setidaknya jangan remehkan posisinya. Perempuan menjadi manusia patuh ketika bersamamu karena ia yakin kamu adalah penentu arah untuk kebaikan hidupnya. 

Kamis, 04 November 2021

Perempuan dalam kurungan Fashion dan Profesi


Selamat malam teman-teman, sehat-sehat ya. Biarkan dunia yang sedang tidak baik-baik saja kamu jangan, hehe… o ya tulisan kali ini aku mau curhat *canda curhat, akibat dari beberapa waktu terakhir sedang banyak membaca bagaimana perjuangan perempuan dari masa ke masa untuk kemerdekaan serta kehormatan dirinya mungkin kita banyak yang sudah membaca kisah Su'airah Al-Asadiyyah salah satu perempuan yang dijamin masuk syurga karena sangat teguh mempertahankan izzah dan iffah nya sewalaupun dalam keadaan ia sedang sakit parah (Epilepsi). Adakah zaman sekarang bisa kita jumpai hal seperti ini ? Jangankan sakit, dalam kondisi sehat pun kita rela menggadaikan kehormatan, terpengaruh dengan model fashion style yang tidak mendahulukan adab berpakaian bagi perempuan. Perempuan dizaman sekarang lebih memilih mengimani apa yang diberikan oleh zaman tidak ada lagi istilah rasional dalam berfikir dan bertindak. Ketika mengikuti wisuda ia rela menanggalkan jilbabnya diatas dada hanya karena alasan trendi, ketika menikah ia rela melilit jilbabnya dileher hanya karena alasan stylenya begini dll, kehormatanmu lebih berharga dari style dan trendi loh :)))

Hal yang lebih menggemparkan lagi adalah dunia sangat senang mempertontonkan perempuan sebagai objek dalam banyak hal, model fashion, Brand Ambassador bahkan perempuan memiliki ajang khusus :( yang seharusnya perempuan ini adalah sosok yang sangat dijaga kehormatannya, diatur keberadaan hidupnya dalam islam mulai dari cara berpakaian hingga bersikap. Dunia membuat perempuan-perempuan menjadi bangga dengan gelar Miss dan sebagainya dengan memakaikan perempuan-perempuan tersebut dengan mahkota. Sayang, mahkota mu bukan itu melainkan sesuatu yang telah kamu jual untuk orang menontonnya secara cuma-cuma :(

Contoh lain dari pedihnya menjadi perempuan di era modernis adalah pakaian perempuan tidak lagi menjadi pelindung baginya melainkan hanya sebagai style bahkan strata sosial bisa berpengaruh terhadap style yang ditunjukan yang lagi-lagi itu sama sekali tidak memperlihatkan kehormatan perempuan, pakaian bagi perempuan sekarang bukannya menutup malah membungkus, bukannya melindungi malah menghantui fikiran laki-laki. Merasa tidak percaya diri dengan pakaian yang disyariatkan dengan alibi lingkungan pekerjaan tidak memperbolehkan berpakaian seperti itu, lingkungan perkuliahan saya tidak mendukung dan sebagainya, berkembangnya teknologi serta ilmu pengetahuan ternyata berbanding terbalik dengan akal pikiran manusia, semakin lama manusia memiliki pikiran yang sempit dan tidak berdasar rasional. Hawa nafsu masih menjadi tuhan untuk setiap diri terlebih corporat yang memiliki aturan sampah.

Nyatanya menjadi perempuan yang memiliki pendirian dan komit terhadap itu sekarang tidak mudah terlebih ketika dibenturkan dengan beberapa kondisi yang mendorongnya, sebab tidak yakin dengan diri sendiri, tidak sabar menjalani keterbatasan, tidak siap diremehkan mau tidak mau perempuan masuk kedalam karung korporat dan hidup menjadi budak. Naudzubillah
 
Dengan menuliskan ini saya jadi berfikir untuk yang suka menuntut dihargai dan dihormati tetapi dasarnya kita tidak menghormati diri kita sendiri apakah pantas menuntut demikian ? kalau diri kita aja bisa diatur oleh sebuah kontestasi dan materi apakah pantas kita mengharap empati ? anehnya kita sangat senang diatur oleh zaman tapi tidak dengan Al-qur’an yang padahal jelas bedanya kemana kita kan dibawa oleh keduanya tersebut.
 
 
 

Jumat, 14 Mei 2021

Perempuan dan Personal Branding, Pentingkah ?



         Halooo, finally yah jumpa lagi bersama tulisan saya yang sangat musiman ini wkwk. Bytheway Taqobbalallahu minna wa mingkum teman-teman, mohon maaf lahir dan batin. Kali ini saya mau cerita tentang personal branding nih wa bil khusus untuk perempuan, why ? karena perempuan adalah makhluk yang suka ikut-ikutan, kurang percaya diri sehingga ia susah menemukan jati diri yang akhirnya suka menyalahkan takdir.

           Oke untuk awal kita bahas dulu apa sih itu Personal Branding ? sederhananya personal branding itu adalah seperti apa kita ingin dikenal/dipandang oleh orang lain/publik, berarti berkaitan dengan cara kita membawa diri, memposisikan diri dihadapan publik. Lalu apakah personal branding itu penting ? tentu, ketika seseorang memiliki personal branding yang kuat maka semakin mudah seseorang tersebut mendapatkan penilaian positif dari orang lain, sebagai seorang influencer atau pendakwah hal ini sangat penting karena dengan penilaian positif yang terbangun memudahkan masyarakat menerima apa yang disampaikan olehnya sehingga nilai kebaikannya tercapai.

           Sebagai seorang perempuan juga memiliki personal branding sangat penting. dari yang saya perhatikan ditengah-tengah kehidupan sosial bahwa perempuan lebih suka ikut-ikutan justru merasa aneh ketika dirinya berbeda dari orang lain,  merasa insecure dengan hal-hal yang orang lain miliki sedangkan dia tidak miliki yang akhirnya suka protes, ya allah kenapa begini sekali hidupku. tidak bermanfaat sekali bukan ?. Sebagai manusia kita mesti tau dulu bahwa setiap kita memiliki ciri khas tersendiri, setiap diri memiliki keunikan masing-masing. Saudara kembar aja punya karakter yang berbeda. Awal kita mesti sadar ini dulu, kebanyakan dari kita (re:perempuan) cenderung merasa aneh ketika dirinya beda dari kebanyakan teman sepergaulannya padahal no worries misal teman sepergaulanmu menyukai warna pink dan kamu warna hitam atau teman sepergaulanmu suka tampil glamour sedang kamu ndak. Ya udah nyamannya kamu seperti itu, jangan maksa.

          Nah sekarang kenapa perempuan juga penting untuk memiliki persoalan branding, selain dari yang saya sampaikan diatas bahwa perempuan adalah makhluk dengan segudang masalah, teriak sana sini menuntut kesetaraan gender tapi yang ia pahami tentang gender hanya pekerjaan dan rumah tangga, menuntut dihargai sana-sini tapi attitude serta akalnya mandet, terus berkeliaran tanpa menutup aurat, Allah aja yang maha pengampun nggak terima hambanya yang sholat dengan aurat terbuka. Personal branding macam apa yang mau dibangun kalo dimata Allah aja udah cacat? Hmmm kan kebawa emosi, sorry gesss bukan maksud untuk merendahkan perempuan namun memang terkadang kita mesti paham tupoksi serta porsi sebagai hamba juga antarmanusia.

          Bagaimana cara perempuan membangun personal branding ? saya copas dari Farah Qoonita dalam sebuah podcastnya menyebutkan bahwa ada tiga hal yang bisa membangun personal brandings ebagai seorang muslimah yaitu :

1.       Akhlak, kita mesti tahu dulu akhlak sebagai seorang perempuan seperti apa, batasan-batasan sebagai seorang perempuan seperti apa. ‘’You must know who is you’’

2.       Skill, nah ini yang saya bahas diatas bahwa tiap kita memiliki keunikan masing-masing, tugasnya adalah kita cari kemampuan atau keunggulan kita di bidang apa atau kita ingin dikenal sebagai apa. Jika ingin dikenal sebagai seorang aktivis semisal ya lakukan pendekatan-pendekatan yang berkaitan dengan itu mungkin dengan mulai banyak membaca buku-buku gerakan misal,  semisal ingin dikenal sebagai volunteer semisal ya lakukan pendekatan juga yang berkaitan dengan dunia kerelawanan. Skill mesti dibangun

3.       Nilai, ini yang menjadi muara dari skill yang kita bangun, nilai kebermanfaatan. Sejauh mana kebermanfaatan kita terhadap skill yang kita bangun. Personal branding tanpa nilai itu sia-sia. Sama seperti ketika kamu melewati jalan berkilo-kilo meter namun ternyata buntu.

       Jadi sebenarnya personal branding membantu kita mengenal dan mengetahui kemampuan diri sehingga memudahkan kita memposisikan diri dihadapan publik sesuai fitrahnya kita sebagai perempuan.   Gimana paham nggak ? duhhh ampun-ampun ya kalo kurang ngerti, maklum sedang belajar juga 😊

       Semangat ya membangun personal brandingnya, ingat jangan takut berbeda dan bersuara pastinya, dunia ini luas kalo hanya laki-laki yang berdakwah kapan islam jayanya ?

Bye, semoga bermanfaat

Sabtu, 30 Januari 2021

Syurga itu luas, jangan serakah!





     Akhir-akhir ini kata hijrah menjadi trend yang manuver dikalangan manusia urban ditambah lagi dengan hadirnya banyak influencer-influencer yang menggaungkan hijrah tapi juga menjadi salah satu model setelan hijab, alhasil hijrah dalam pandangan manusia urban adalah pergantian model pakaian. Bukan begitu ? Juga trend hijrah seolah menjadikan manusia berkelompok-kelompok sehingga orientasi hijrah yang semestinya luas justru menjadi sempit dan individualis. Kenapa hijrah membuat orang jadi ansos (anti-sosial) ? Kenapa hijrah menjadikan manusia semakin cuek. Rentetan pertanyaan-pertanyaan diatas muncul dalam benak saya akhir-akhir ini ketika melihat banyak manusia yang berganti status pakaian dari pendek ke panjang, dari kaos ke piyama dsb, seperti terjadi pergeseran makna dari kata hijrah tersebut atau seperti yang saya sampaikan diatas doktrin dari brand ambasador olshop-olshop  pakaian syar'i yang begitu kuat sepertinya. Entah~ 

     Kontesknya saya tidak ingin membahas lebih mendalam persoalan pakaian, sejatinya hal tersebut kembali ke kesanggupan pribadi untuk berpakaian model seperti apa dengan catatan tidak melewati batas yang semestinya. Oke kita kembali ke topik hijrah saja. Sebetulnya apa itu hijrah ? Secara harfiah, 'hijrah' berarti pindah atau bergerak dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

     Dalam sejarahnya, hijrah merujuk pada tradisi Rasulullah SAW yang melakukan perpindahan dari Mekkah ke Madinah. Perpindahan Rasulullah SAW dari Mekkah ke Madinah itu dilatarbelakangi oleh keinginan untuk mendapatkan tempat dakwah yang baru serta situasi yang lebih menjanjikan daripada sebelumnya yang artinya orientasi yang ingin dicapai adalah bagaimana islam yang Rasulullah SAW pahami bisa juga diterima oleh orang lain. Lalu Bagaimana makna hijrah dalam tradisi Rasulullah SAW dikontekstualisasikan dalam kehidupan modern saat ini? Hijrah sebagai sebuah gerakan secara fisik sangat berkaitan dengan gerakan yang bersifat spiritual. Artinya, keberhasilan berhijrah tidak semata-mata ditentukan oleh perpindahan atau perubahan fisik. Dalam konteks modern saat ini, hijrah dipahami sebagai upaya untuk mengubah perilaku serta mental keislaman. 

      Apakah makna dari kata hijrah  mengajarkan manusia menjadi individualis ? Kenapa bagi orang² yang katanya sudah berhijrah seolah dianggap kesalahan untuk berkumpul dengan orang² yang belum hijrah ? Syurga itu luas, jangan serakah mau dikuasain sendiri. Ya kalo hijrah mu hanya untuk diri kamu bagaimana orang² disekitarmu ? Dibiarkan hidup dalam kebutaan ? Dibiarkan melakukan kesalahan ? Dibiarkan jauh dari Allah ? Sekali lagi, syurga itu luas. Bagaimana orang bisa mengetahui nikmatnya islam dan iman kalau kitanya enggan memperlihatkan.

      Hijrah sangat berkaitan dengan sikap, sifat dan martabat. Yaaa. Tapi kurasa pointnya bukan itu. Kamu berlomba-lomba memperbaiki dirimu tapi tetanggamu tidak tahu apa itu islam itu nggak worth it. Kamu membiarkan orang dalam kebodohan dan kamu berlari sendiri mengejar syurga, itu hal yang keliru. Kalau orang lain tidak bisa menerima manfaat dari perubahanmu, lalu apa gunanya hidup ? 


Tolong dong, buka mata teman-teman. Sadar satu hal bahwa kamu diciptakan bukan untuk menjalani hidup sekehendakmu. Ada amanah untuk kamu Yaitu Amar Ma'ruf Nahi Munkar dan itu tidak bisa dikerjakan secara individualis!


Rabu, 04 November 2020

Perihal Uang dan Untuk Apa Hidup

 

Tentu diumur yang semakin bertambah kita dihadapkan oleh pilihan besar dalam hidup antara kesejahteraan pribadi, keluarga dan masyarakat umum, Tak terelakkan. Menjadi seorang dewasa dan single tentu kamu punya mimpi dan target dalam hidup yang artinya harus selalu diikhtiarkan juga sebagai anak kamu tentunya punya kemauan dan tekad membahagiakan orang tua tentu dalam takaran materi. Pun sebagai kaum sosialis yang dari lahir hidupmu lingkungan sosial sudah menjadi satu kesatuan dengan hidupmu tentu juga kamu ingin memiliki andil dalam hal kesejahteraan mereka entah dalam hal moril maupun materil.

Nah bagi saya pribadi bukan hal mudah melakukan semua hal diatas dengan pola modernisasi zaman yang memberi peluang menjadi kaum apatis, untuk point 1 dan 2 mungkin akan bisa sejalan kalau diukur dengan materi (uang), namun point 3 ? Bagaimana teman teman akan memposisikan diri menjadi pengabdi sosial sedangkan orientasi materi dalam diri kita tinggi ? Apakah peran sosial kita bisa dibayar dengan uang ? Hal yang kurasa cukup kontradiktif. Uang dan teknologi tidak bisa menghapuskan buta aksara teman teman, yang artinya peran moril kamu yang orang-orang butuhkan. Langkah kecil kamu yang menjadi dorongan orang orang untuk belajar.

Saya menulis ini karena melihat betapa banyak orang-orang yang dulunya adalah orang yang sangat berpengaruh dalam tatanan masyarakat lantas harus diam dan kaku dalam persoalan seperti ini dengan alasan sibuk bekerja dan sebagainya pun disaat yang bersamaan saya melihat banyak anak-anak yang semakin kesini pola hidupnya tidak terkontrol dengan baik seperti menjadikan gadget sebagai teman, masa bodoh dengan kebodohan, kekurangan adab dsb. Itu bukan hal sepele, ingat bahwa dunia tidak hadir hanya untuk kamu dan orang orang sebayamu. Kedepannya masih akan banyak generasi generasi baru yang akan tumbuh yang berarti apa yang kamu lakukan serta warisi kepada mereka itu yang akan menjadi acuan hidup mereka. 

Saya pribadi juga manusia yang butuh uang dan tentu menjemputnya dengan bekerja. Namun sedari dulu saya punya prinsip untuk tidak menjadikan orientasi pekerjaan adalah uang, i dont know how to explain more, tapi saya percaya dan yakin kalau segala yang kita lakukan serta dapatkan akan bergantung dari apa yang kita niat atau orientasikan, well itu terwujud :))) setiap saya niatkan saya bekerja untuk ilmu dan pengalaman maka itu yang saya peroleh + bonusnya adalah uang. Saya tidak memposisikan uang sebagai hal yang tidak penting ya, penting bahkan sangat penting akan tetapi bagi saya pribadi keringat dan kerja keras tidak bisa diukur dengan nomimal yang tak seberapa tersebut :) yang pantas untuk membayar semua itu ya pengalaman dan ilmu tersebut. Saya tidak peduli dengan apapun yang lakukan untuk mendapatkan uang (harus halal) selagi saya bisa mendapatkan banyak peluang kebermanfaatan saya akan jalani. Sesimpel itu cara saya menikmati hidup
Ingat bahwa keberadaan kamu yang sudah berilmu sangat penting dalam lingkungan sosial, silahkan menjadi realistis tapi jangan apatis.
Sekian dari ocehan tengah malam ini, 
Sampai ketemu di lingkaran kebermanfaatan :)))
x

Rabu, 10 Juni 2020

Hijab, attitude and social paradigm



       Hai, sudah lama tidak bertegur sapa dengan blog, my other world. Baru ada ide lagi untuk nulis, kali ini mau ngebahas yang santai santai aja about how i feel wearing hijab (bahasanya nyampur nyampur nggak apa apa ya, masih belajar ). Untuk yang belum tahu namaku ira umur 23 tahun, aku menggunakan jilbab patennya sedari Sekolah Menengah Atas (SMA) Kelas 1 jadi udah sekitar 9 tahun berjilbab. Dulu untuk anak anak SMA pada zamanku hijab bukan hal yang mudah dilakuin apalagi di sekolah umum walaupun lingkungan aku islami, dikatain so alim, so suci didepan mata kepala aku sendiri adalah salah satu tantangan untuk tetap berhijab dulu hingga saat sekarang Alhamdulillah.
     Di hampir 1/4 abad umur aku sekarang diumur yang katanya diambang kegalauan tentang pencarian jati diri atau istilahnya "Quarter Life Crisis" hidup dengan ekspektasi orang terhadap diri aku adalah hal yang aku minimalisir terlebih jika itu menyangkut hijab. Entah kalian sadar apa tidak diumur yang hingga sekarang masih banyak orang yang mengharap lebih atas diri kita contoh dengan ungkapan "sayang banget ya dia udah berhijab tapi begini begini, kenapa ya dia keliaran padahal pakaiannya gini gini, kamu tu perempuan dirumah aja sesuai kodratmu, dan bla bla bla" anggapan tersebut tidak salah, tiap orang punya hak berpendapat bukan? Hanya saja yang salah adalah tidak sedikit dari kita jatuh karna anggapan tersebut, cuma terkadang kita mesti mikir hidup kita ada dalam kendali kita, orang boleh berkata a b c bahkan sampai z ya terserah orang tersebut kita hanya perlu mencapai titik pencarian jati diri kita. Analogi sederhana ada org tidak suka makan daun pepaya juga ada orang yang suka bahkan sangat suka makan daun pepaya, salahnya kebanyakan orang yang sangat suka makan daun pepaya memaksa orang yang tidak suka untuk memakannya. Aneh bukan sih? Tiap orang punya privilige atas diri mereka, kenapa mesti kita yang atur suka tidak sukanya orang? Kita hidup dengan kemauan dan perasaan kita aja udah, terlebih kalau diri kamu bukan siapa siapa untuk orang tersebut. Paham?! Semakin dewasa fikiran kita mestinya harus makin bijak menempati segala sesuatu pada tupoksinya, ukuran kaki 38 make sepatu ukuran 40, waras nggak sih?

   Satu hal yang diakui memang ketika kita hidup bermasyarakat bahwa anggapan orang-orang tentang kepribadian dan tingkah laku kita adalah tantangan yang berat, sekali lagi hal tersebut tidak salah karna mereka memiliki keluarga bahkan anak seumuran kita yang beliau khawatirkan anaknya akan seperti kita. Sebuh pandangan klasik, maka bagi saya mengapa hidup harus open minded, berwawasan dan penuh pengalaman. Sebuah kebenaran tidak lahir atas budaya, sebuah kebebasan tidak lahir atas pemberontakan, jiwa yang tahu jalan juang mana yang ia lewati.

"Aku ingin memberi dukungan untuk siapapun yang berjuang pada jalannya menuju mimpi dan target hidupnya, kamu punya hak istimewa untuk membentuk jalan hidupmu seperti apa, hanya perlu ketahui rules dalam berjuang yaitu Iman dan selamat menemukan jalan"

Selasa, 14 Januari 2020

TRAUMA

 cerita seorang anak yang dari kecil tak tahu  rasanya kasih sayang sosok ‘’bapak’’, yah thats me. Walaupun sebenarnya aku juga nggak tahu definisi kasih sayang wujudnya seperti apa. Tapi merasa ada yang kurang dalam bagian hidup iya, ada. Melihat sana sini orang bermain dengan sosok tersebut setiap hari bahkan tiap saat, melihat teman yang setiap hari diantar sekolah oleh sosok tersebut, yah pokoknya melihat kalian sedang tertawa manja dengan sosok tersebut kadang buat aku merasa koq bagian takdir hidup ira gini ya Allah. Seorang anak kecil yang tak tahu sabar, ikhlas akan sangat susah menerima penjelasan apapun bahkan pernah berdo’a untuk ngerasain keluarga yang ‘’utuh’’ juga pernah membayangkan bangun tidur melihat dua sosok mama-papa. Ternyata hanya angan.
   tapi kalau definisi bahagia adalah tertawa, nyaman aku merasakannya walau tanpanya. Ketidaksyukuranku terhadap kehidupan membuat aku selalu mengcompare hidupku dengan orang lain, dan itu ternyata salah. Ya wajar sih dulu kan kecil mana ngerti kayak ginian, duuhh ampun jangan ditiru. Bersyukurnya aku dibesarkan di keluarga yang alhamdulillah selalu menanamkan nilai-nilai agama sejak kecil, yang selalu berfikir segala yang terjadi sudah diatur, bukan Allah menghendaki kesedihan untuk hambaNya, hanya untuk kau merasa bahwa hidup bukan hanya tentang bahagia, juga selalu diingatkan masih banyak orang yang keadaannya lebih buruk dari ini, yang kehilangan kedua orang tuanya. Dan itu jadi titik bangkit buat aku, dari hal tersebut selalu punya mimpi untuk bisa bermanfaat bagi orang lain, untuk belajar tidak mengecewakan orang lain, untuk belajar posisikan orang selayaknya diri kita ingin diposisikan.
  Hal tersebut yang jadi alasan mengapa aku sangat hati-hati dan tidak pernah ingin menjalankan hubungan antara laki-laki dan perempuan sewaktu SMP hingga kuliah ‘’sorry agak sedikit berlebihan, hehe’’ bahkan pernah mikir bahagia bukan hanya tentang pernikahan, banyak hal yang bisa mendefinisikan kebahagiaan dan jalan pernikahan bukan satu-satunya, mengajar anak-anak di pelosok adalah kebahagiaan, jalan-jalan adalah kebahagiaan, melihat mama bahagia adalah kebahagiaan ‘’dulu ya sorry’’. Rasa trauma kelihatannya lebih besar ketimbang ilmu agama tentang pernikahan yang saat itu terfikirkan. Karna melihat proses mama bangkit dari keadaan tersebut yang sangat tertatih, sendiri besarkan dan sekolahkan 3 anaknya, selalu berusaha untuk wujudkan mimpi anaknya dan sekarang ira mau bilang, mama berhasil, mama luar biasa.
  Semakin dewasa semakin realize bahwa hidup punya skenario terbaiknya sendiri, tak perlu di stir gk mau ini, gk mau itu, segala yang ada cukup dijalani. Hidup akan lebih baik jika diterima saja takdirnya. Belajar menjadi versi terbaik dari diri sendiri akan membawa kita ke jalan  yang terbaik.
‘’Terima kasih ya Rabb, sudah diberikan jalan hidup yang seindah ini’’
Terima kasih telah membaca