Kamis, 11 November 2021
Fathers Day for my life
Kamis, 04 November 2021
Perempuan dalam kurungan Fashion dan Profesi
Jumat, 14 Mei 2021
Perempuan dan Personal Branding, Pentingkah ?
Halooo, finally yah jumpa
lagi bersama tulisan saya yang sangat musiman ini wkwk. Bytheway Taqobbalallahu
minna wa mingkum teman-teman, mohon maaf lahir dan batin. Kali ini saya mau
cerita tentang personal branding nih wa bil khusus untuk perempuan, why ? karena
perempuan adalah makhluk yang suka ikut-ikutan, kurang percaya diri sehingga ia
susah menemukan jati diri yang akhirnya suka menyalahkan takdir.
Oke untuk awal kita bahas
dulu apa sih itu Personal Branding ? sederhananya personal branding itu adalah
seperti apa kita ingin dikenal/dipandang oleh orang lain/publik, berarti
berkaitan dengan cara kita membawa diri, memposisikan diri dihadapan publik.
Lalu apakah personal branding itu penting ? tentu, ketika seseorang memiliki
personal branding yang kuat maka semakin mudah seseorang tersebut mendapatkan
penilaian positif dari orang lain, sebagai seorang influencer atau pendakwah
hal ini sangat penting karena dengan penilaian positif yang terbangun
memudahkan masyarakat menerima apa yang disampaikan olehnya sehingga nilai
kebaikannya tercapai.
Sebagai seorang perempuan
juga memiliki personal branding sangat penting. dari yang saya perhatikan
ditengah-tengah kehidupan sosial bahwa perempuan lebih suka ikut-ikutan justru
merasa aneh ketika dirinya berbeda dari orang lain, merasa insecure dengan hal-hal yang orang lain
miliki sedangkan dia tidak miliki yang akhirnya suka protes, ya allah kenapa
begini sekali hidupku. tidak bermanfaat sekali bukan ?. Sebagai manusia kita
mesti tau dulu bahwa setiap kita memiliki ciri khas tersendiri, setiap diri
memiliki keunikan masing-masing. Saudara kembar aja punya karakter yang
berbeda. Awal kita mesti sadar ini dulu, kebanyakan dari kita (re:perempuan)
cenderung merasa aneh ketika dirinya beda dari kebanyakan teman sepergaulannya
padahal no worries misal teman sepergaulanmu menyukai warna pink dan kamu warna
hitam atau teman sepergaulanmu suka tampil glamour sedang kamu ndak. Ya udah
nyamannya kamu seperti itu, jangan maksa.
Nah sekarang kenapa perempuan juga penting
untuk memiliki persoalan branding, selain dari yang saya sampaikan diatas bahwa
perempuan adalah makhluk dengan segudang masalah, teriak sana sini menuntut
kesetaraan gender tapi yang ia pahami tentang gender hanya pekerjaan dan rumah
tangga, menuntut dihargai sana-sini tapi attitude serta akalnya mandet, terus
berkeliaran tanpa menutup aurat, Allah aja yang maha pengampun nggak terima
hambanya yang sholat dengan aurat terbuka. Personal branding macam apa yang mau
dibangun kalo dimata Allah aja udah cacat? Hmmm kan kebawa emosi, sorry gesss
bukan maksud untuk merendahkan perempuan namun memang terkadang kita mesti
paham tupoksi serta porsi sebagai hamba juga antarmanusia.
Bagaimana cara perempuan
membangun personal branding ? saya copas dari Farah Qoonita dalam sebuah
podcastnya menyebutkan bahwa ada tiga hal yang bisa membangun personal
brandings ebagai seorang muslimah yaitu :
1. Akhlak, kita
mesti tahu dulu akhlak sebagai seorang perempuan seperti apa, batasan-batasan
sebagai seorang perempuan seperti apa. ‘’You must know who is you’’
2.
Skill, nah ini
yang saya bahas diatas bahwa tiap kita memiliki keunikan masing-masing,
tugasnya adalah kita cari kemampuan atau keunggulan kita di bidang apa atau
kita ingin dikenal sebagai apa. Jika ingin dikenal sebagai seorang aktivis
semisal ya lakukan pendekatan-pendekatan yang berkaitan dengan itu mungkin
dengan mulai banyak membaca buku-buku gerakan misal, semisal ingin dikenal sebagai volunteer
semisal ya lakukan pendekatan juga yang berkaitan dengan dunia kerelawanan. Skill
mesti dibangun
3.
Nilai, ini
yang menjadi muara dari skill yang kita bangun, nilai kebermanfaatan. Sejauh
mana kebermanfaatan kita terhadap skill yang kita bangun. Personal branding
tanpa nilai itu sia-sia. Sama seperti ketika kamu melewati jalan berkilo-kilo
meter namun ternyata buntu.
Jadi sebenarnya personal branding membantu
kita mengenal dan mengetahui kemampuan diri sehingga memudahkan kita
memposisikan diri dihadapan publik sesuai fitrahnya kita sebagai perempuan. Gimana
paham nggak ? duhhh ampun-ampun ya kalo kurang ngerti, maklum sedang belajar
juga 😊
Semangat ya membangun personal
brandingnya, ingat jangan takut berbeda dan bersuara pastinya, dunia ini luas
kalo hanya laki-laki yang berdakwah kapan islam jayanya ?
Bye, semoga bermanfaat
Sabtu, 30 Januari 2021
Syurga itu luas, jangan serakah!
Akhir-akhir ini kata hijrah menjadi trend yang manuver dikalangan manusia urban ditambah lagi dengan hadirnya banyak influencer-influencer yang menggaungkan hijrah tapi juga menjadi salah satu model setelan hijab, alhasil hijrah dalam pandangan manusia urban adalah pergantian model pakaian. Bukan begitu ? Juga trend hijrah seolah menjadikan manusia berkelompok-kelompok sehingga orientasi hijrah yang semestinya luas justru menjadi sempit dan individualis. Kenapa hijrah membuat orang jadi ansos (anti-sosial) ? Kenapa hijrah menjadikan manusia semakin cuek. Rentetan pertanyaan-pertanyaan diatas muncul dalam benak saya akhir-akhir ini ketika melihat banyak manusia yang berganti status pakaian dari pendek ke panjang, dari kaos ke piyama dsb, seperti terjadi pergeseran makna dari kata hijrah tersebut atau seperti yang saya sampaikan diatas doktrin dari brand ambasador olshop-olshop pakaian syar'i yang begitu kuat sepertinya. Entah~
Kontesknya saya tidak ingin membahas lebih mendalam persoalan pakaian, sejatinya hal tersebut kembali ke kesanggupan pribadi untuk berpakaian model seperti apa dengan catatan tidak melewati batas yang semestinya. Oke kita kembali ke topik hijrah saja. Sebetulnya apa itu hijrah ? Secara harfiah, 'hijrah' berarti pindah atau bergerak dari satu lokasi ke lokasi lainnya.
Dalam sejarahnya, hijrah merujuk pada tradisi Rasulullah SAW yang melakukan perpindahan dari Mekkah ke Madinah. Perpindahan Rasulullah SAW dari Mekkah ke Madinah itu dilatarbelakangi oleh keinginan untuk mendapatkan tempat dakwah yang baru serta situasi yang lebih menjanjikan daripada sebelumnya yang artinya orientasi yang ingin dicapai adalah bagaimana islam yang Rasulullah SAW pahami bisa juga diterima oleh orang lain. Lalu Bagaimana makna hijrah dalam tradisi Rasulullah SAW dikontekstualisasikan dalam kehidupan modern saat ini? Hijrah sebagai sebuah gerakan secara fisik sangat berkaitan dengan gerakan yang bersifat spiritual. Artinya, keberhasilan berhijrah tidak semata-mata ditentukan oleh perpindahan atau perubahan fisik. Dalam konteks modern saat ini, hijrah dipahami sebagai upaya untuk mengubah perilaku serta mental keislaman.
Apakah makna dari kata hijrah mengajarkan manusia menjadi individualis ? Kenapa bagi orang² yang katanya sudah berhijrah seolah dianggap kesalahan untuk berkumpul dengan orang² yang belum hijrah ? Syurga itu luas, jangan serakah mau dikuasain sendiri. Ya kalo hijrah mu hanya untuk diri kamu bagaimana orang² disekitarmu ? Dibiarkan hidup dalam kebutaan ? Dibiarkan melakukan kesalahan ? Dibiarkan jauh dari Allah ? Sekali lagi, syurga itu luas. Bagaimana orang bisa mengetahui nikmatnya islam dan iman kalau kitanya enggan memperlihatkan.
Hijrah sangat berkaitan dengan sikap, sifat dan martabat. Yaaa. Tapi kurasa pointnya bukan itu. Kamu berlomba-lomba memperbaiki dirimu tapi tetanggamu tidak tahu apa itu islam itu nggak worth it. Kamu membiarkan orang dalam kebodohan dan kamu berlari sendiri mengejar syurga, itu hal yang keliru. Kalau orang lain tidak bisa menerima manfaat dari perubahanmu, lalu apa gunanya hidup ?
Tolong dong, buka mata teman-teman. Sadar satu hal bahwa kamu diciptakan bukan untuk menjalani hidup sekehendakmu. Ada amanah untuk kamu Yaitu Amar Ma'ruf Nahi Munkar dan itu tidak bisa dikerjakan secara individualis!
Rabu, 04 November 2020
Perihal Uang dan Untuk Apa Hidup
Rabu, 10 Juni 2020
Hijab, attitude and social paradigm
Di hampir 1/4 abad umur aku sekarang diumur yang katanya diambang kegalauan tentang pencarian jati diri atau istilahnya "Quarter Life Crisis" hidup dengan ekspektasi orang terhadap diri aku adalah hal yang aku minimalisir terlebih jika itu menyangkut hijab. Entah kalian sadar apa tidak diumur yang hingga sekarang masih banyak orang yang mengharap lebih atas diri kita contoh dengan ungkapan "sayang banget ya dia udah berhijab tapi begini begini, kenapa ya dia keliaran padahal pakaiannya gini gini, kamu tu perempuan dirumah aja sesuai kodratmu, dan bla bla bla" anggapan tersebut tidak salah, tiap orang punya hak berpendapat bukan? Hanya saja yang salah adalah tidak sedikit dari kita jatuh karna anggapan tersebut, cuma terkadang kita mesti mikir hidup kita ada dalam kendali kita, orang boleh berkata a b c bahkan sampai z ya terserah orang tersebut kita hanya perlu mencapai titik pencarian jati diri kita. Analogi sederhana ada org tidak suka makan daun pepaya juga ada orang yang suka bahkan sangat suka makan daun pepaya, salahnya kebanyakan orang yang sangat suka makan daun pepaya memaksa orang yang tidak suka untuk memakannya. Aneh bukan sih? Tiap orang punya privilige atas diri mereka, kenapa mesti kita yang atur suka tidak sukanya orang? Kita hidup dengan kemauan dan perasaan kita aja udah, terlebih kalau diri kamu bukan siapa siapa untuk orang tersebut. Paham?! Semakin dewasa fikiran kita mestinya harus makin bijak menempati segala sesuatu pada tupoksinya, ukuran kaki 38 make sepatu ukuran 40, waras nggak sih?
Satu hal yang diakui memang ketika kita hidup bermasyarakat bahwa anggapan orang-orang tentang kepribadian dan tingkah laku kita adalah tantangan yang berat, sekali lagi hal tersebut tidak salah karna mereka memiliki keluarga bahkan anak seumuran kita yang beliau khawatirkan anaknya akan seperti kita. Sebuh pandangan klasik, maka bagi saya mengapa hidup harus open minded, berwawasan dan penuh pengalaman. Sebuah kebenaran tidak lahir atas budaya, sebuah kebebasan tidak lahir atas pemberontakan, jiwa yang tahu jalan juang mana yang ia lewati.
"Aku ingin memberi dukungan untuk siapapun yang berjuang pada jalannya menuju mimpi dan target hidupnya, kamu punya hak istimewa untuk membentuk jalan hidupmu seperti apa, hanya perlu ketahui rules dalam berjuang yaitu Iman dan selamat menemukan jalan"
Selasa, 14 Januari 2020
TRAUMA
tapi kalau definisi bahagia adalah tertawa, nyaman aku merasakannya walau tanpanya. Ketidaksyukuranku terhadap kehidupan membuat aku selalu mengcompare hidupku dengan orang lain, dan itu ternyata salah. Ya wajar sih dulu kan kecil mana ngerti kayak ginian, duuhh ampun jangan ditiru. Bersyukurnya aku dibesarkan di keluarga yang alhamdulillah selalu menanamkan nilai-nilai agama sejak kecil, yang selalu berfikir segala yang terjadi sudah diatur, bukan Allah menghendaki kesedihan untuk hambaNya, hanya untuk kau merasa bahwa hidup bukan hanya tentang bahagia, juga selalu diingatkan masih banyak orang yang keadaannya lebih buruk dari ini, yang kehilangan kedua orang tuanya. Dan itu jadi titik bangkit buat aku, dari hal tersebut selalu punya mimpi untuk bisa bermanfaat bagi orang lain, untuk belajar tidak mengecewakan orang lain, untuk belajar posisikan orang selayaknya diri kita ingin diposisikan.
Hal tersebut yang jadi alasan mengapa aku sangat hati-hati dan tidak pernah ingin menjalankan hubungan antara laki-laki dan perempuan sewaktu SMP hingga kuliah ‘’sorry agak sedikit berlebihan, hehe’’ bahkan pernah mikir bahagia bukan hanya tentang pernikahan, banyak hal yang bisa mendefinisikan kebahagiaan dan jalan pernikahan bukan satu-satunya, mengajar anak-anak di pelosok adalah kebahagiaan, jalan-jalan adalah kebahagiaan, melihat mama bahagia adalah kebahagiaan ‘’dulu ya sorry’’. Rasa trauma kelihatannya lebih besar ketimbang ilmu agama tentang pernikahan yang saat itu terfikirkan. Karna melihat proses mama bangkit dari keadaan tersebut yang sangat tertatih, sendiri besarkan dan sekolahkan 3 anaknya, selalu berusaha untuk wujudkan mimpi anaknya dan sekarang ira mau bilang, mama berhasil, mama luar biasa.
Semakin dewasa semakin realize bahwa hidup punya skenario terbaiknya sendiri, tak perlu di stir gk mau ini, gk mau itu, segala yang ada cukup dijalani. Hidup akan lebih baik jika diterima saja takdirnya. Belajar menjadi versi terbaik dari diri sendiri akan membawa kita ke jalan yang terbaik.
‘’Terima kasih ya Rabb, sudah diberikan jalan hidup yang seindah ini’’
Terima kasih telah membaca


