Throwback ke beberapa perjalanan menempa diri dengan hal-hal sederhana seperti belajar bersama anak-anak pelosok atau pesisir, berletih-letihan berjalanan kaki 6-8 jam menuju sebuah desa dipegunungan, naik perahu untuk mengunjungi anak-anak dipulau, melakukan kunjungan untuk anak-anak korban kebakaran dan menemani anak-anak korban banjir selama satu bulan hingga menjadi Relawan mewakili Dompu disalah satu Yayasan sosial Kemanusiaan Nasional. Alhamdulillah...
Siapa sangka mimpi sederhana yang tercatat sewaktu SMA Allah Ijabah, menjadi manusia dengan pengalaman-pengalaman kebermanfaatan. Sewalaupun pada kenyataannya tidak semudah yang saya tuliskan ini, karena untuk melakukan semua hal tersebut banyak juga hal yang dipertaruhkan, banyak keinginan yang dikubur, ego yang dikikis, kewajiban-kewajiban sebagai mahasiswa yang dilanggar. Namun untuk sekarang saya katakan semuanya worth it.
Jawaban sederhana saya kenapa ingin hidup dengan perjalanan kebermanfaatan adalah saya tidak tau Allah memberi waktu saya untuk hidup berapa lama, saya berharap diwaktu yang singkat tersebut saya punya amalan yang bisa saya pertanggungjawabkan umur saya dihabiskan seperti apa di dunia. Sebagai manusia apalagi muslim tentu keyakinan adalah pondasi untuk kita menjalani hidup, entah bagaimana atau apakah ada orang yang hidup tanpa keyakinan, dan pilihan hidup yang tertulis ini adalah keyakinan yang ingin selalu saya pupuk sewalaupun mungkin nanti metodenya tidak seperti yang biasa dilakukan. Semoga Allah ridho atas semua pilihan hidup. Aamiin
Memang apa enaknya hidup jadi relawan ? Apalagi diumur yang seharusnya menuntut kita memiliki kemandirian secara finansial ? Bagaimana mengimbangi kebutuhan hidup dengan pilihan kebermanfaatan ? Ada masanya kita hidup untuk orang lain dan ada juga masanya kita hidup untuk diri kita. Semua hal ini sempat menjadi beban fikiran apalagi sebagai perempuan, namun kembali lagi ke keyakinan dan niat bahwa kita tidak akan diminta untuk menjadi saksi atas hidup orang lain ketika nanti di hisab pun orang lain tidak akan menjadi saksi atas hidup kita, sungguh anggota tubuh kitalah sendiri saksinya. Menjalani hidup dengan pilihan kebermanfaatan katakanlah sebagai relawan itu menurut saya profesi yang tak akan mampu dibayar dengan nominal seperti kutipan salah satu tokoh bahwa "kenapa relawan tidak dibayar ? Bukan karena tak bernilai, melainkan tak ternilai" (Anies Baswedan). Apa yang mampu membayar keikhlasan ? Ketika manusia pada umumnya memiliki jam kerja 8-10 jam/hari dan ketika memilih menjadi relawan hampir 24 jam waktu anda harus selalu siap. Hal ini saya rasakan ketika menjadi relawan banjir disalah satu kecamatan di Dompu (Hu'u) bersama tim Muhammadiyah Disaster Manajemen Center (MDMC) ketika saat itu harus melihat langsung isak tangis warga disaat banjir bandang melanda dengan minimnya jumlah relawan karena kedatangan banjir yang diluar prediksi, tempat evakuasi yang tidak mendukung, anak-anak yang harus ditangani karena ditinggal oleh orang tuanya untuk mengevakuasi barang-barang dirumah, ketersediaan logistik yang minim, obat-obatan terbatas, lokasi yang jauh dari perkotaan, duuuhhhh selalu saja menangis jika mengingat kejadian-kejadian saat itu. Dari hari itu tim kami memutuskan untuk bertahan lebih lama hingga tak terasa satu bulan menjadi warga sana. Untuk detailnya sepertinya butuh dibuatkan judul tersendiri sebab sangat banyak hal terjadi dan ingin juga saya bagikan, semoga sabar menunggu :)))
Tak ada manusia yang ingin hidup tanpa arti, anda pasti juga kan ? Namun terkadang kita gagal menemukan apa arti hidup itu sendiri. Let it flow bukan pilihan menjadi manusia apalagi hamba Allah yang mukmin. Butuh peta perjalanan dan untuk membuat peta kan harus ada titik point tujuannya. Sudah punya ?
Tidak banyak kata rupanya bisa saya tuangkan disini, sisanya hanya perasaan syukur serta bahagia atas semua perjalanan tersebut. Terima kasih sudah membuat saya merasa berarti.