Rabu, 10 Juni 2020

Hijab, attitude and social paradigm



       Hai, sudah lama tidak bertegur sapa dengan blog, my other world. Baru ada ide lagi untuk nulis, kali ini mau ngebahas yang santai santai aja about how i feel wearing hijab (bahasanya nyampur nyampur nggak apa apa ya, masih belajar ). Untuk yang belum tahu namaku ira umur 23 tahun, aku menggunakan jilbab patennya sedari Sekolah Menengah Atas (SMA) Kelas 1 jadi udah sekitar 9 tahun berjilbab. Dulu untuk anak anak SMA pada zamanku hijab bukan hal yang mudah dilakuin apalagi di sekolah umum walaupun lingkungan aku islami, dikatain so alim, so suci didepan mata kepala aku sendiri adalah salah satu tantangan untuk tetap berhijab dulu hingga saat sekarang Alhamdulillah.
     Di hampir 1/4 abad umur aku sekarang diumur yang katanya diambang kegalauan tentang pencarian jati diri atau istilahnya "Quarter Life Crisis" hidup dengan ekspektasi orang terhadap diri aku adalah hal yang aku minimalisir terlebih jika itu menyangkut hijab. Entah kalian sadar apa tidak diumur yang hingga sekarang masih banyak orang yang mengharap lebih atas diri kita contoh dengan ungkapan "sayang banget ya dia udah berhijab tapi begini begini, kenapa ya dia keliaran padahal pakaiannya gini gini, kamu tu perempuan dirumah aja sesuai kodratmu, dan bla bla bla" anggapan tersebut tidak salah, tiap orang punya hak berpendapat bukan? Hanya saja yang salah adalah tidak sedikit dari kita jatuh karna anggapan tersebut, cuma terkadang kita mesti mikir hidup kita ada dalam kendali kita, orang boleh berkata a b c bahkan sampai z ya terserah orang tersebut kita hanya perlu mencapai titik pencarian jati diri kita. Analogi sederhana ada org tidak suka makan daun pepaya juga ada orang yang suka bahkan sangat suka makan daun pepaya, salahnya kebanyakan orang yang sangat suka makan daun pepaya memaksa orang yang tidak suka untuk memakannya. Aneh bukan sih? Tiap orang punya privilige atas diri mereka, kenapa mesti kita yang atur suka tidak sukanya orang? Kita hidup dengan kemauan dan perasaan kita aja udah, terlebih kalau diri kamu bukan siapa siapa untuk orang tersebut. Paham?! Semakin dewasa fikiran kita mestinya harus makin bijak menempati segala sesuatu pada tupoksinya, ukuran kaki 38 make sepatu ukuran 40, waras nggak sih?

   Satu hal yang diakui memang ketika kita hidup bermasyarakat bahwa anggapan orang-orang tentang kepribadian dan tingkah laku kita adalah tantangan yang berat, sekali lagi hal tersebut tidak salah karna mereka memiliki keluarga bahkan anak seumuran kita yang beliau khawatirkan anaknya akan seperti kita. Sebuh pandangan klasik, maka bagi saya mengapa hidup harus open minded, berwawasan dan penuh pengalaman. Sebuah kebenaran tidak lahir atas budaya, sebuah kebebasan tidak lahir atas pemberontakan, jiwa yang tahu jalan juang mana yang ia lewati.

"Aku ingin memberi dukungan untuk siapapun yang berjuang pada jalannya menuju mimpi dan target hidupnya, kamu punya hak istimewa untuk membentuk jalan hidupmu seperti apa, hanya perlu ketahui rules dalam berjuang yaitu Iman dan selamat menemukan jalan"