Selasa, 25 Juli 2023

Hi girl, cantikkan kualitas secantik standar

Perempuan dan percintaan adalah hal yang sama sulit dipahami, iya ga ? wkwk… entah mengapa sayapun sebagai perempuan menyadari hal tersebut rasanya sulit mengungkapkan apa yang diri inginkan dan berharap orang mengerti keinginan tersebut, anehhh. Sepertipun percintaan penuh tebakan kerap kali kita mikir mungkin ini ternyata itu, kayaknya ia ternyata tidak, sepertinya oke ternyata palsu dan banyak lagi hal-hal yang membuat kita bingung dan dengan bijaknya kita (re:perempuan) suka membuat kesimpulan sendiri, iya kan ? padahal mah orang hanya sekedar penasaran eh tapi disambut dengan perasaan daannn akhirnya pusing sendiri, stress sendiri, galau sendiri padahal yang salah ? diri sendiri. Kira-kira dimana letak kekeliruan kita terhadap hal-hal yang membingungkan tersebut ? coba yuuk kita bahas


Kenapa kebanyakan perempuan selalu kalah dalam hal-hal percintaan dalam beberapa kasus perempuan selalu menjadi korban dari kisah percintaan hingga akhirnya memilih mengakhiri hidup karna kekecewaan dan patah hati, sederhana karena kita tidak punya prinsip, kita tidak memiliki batasan untuk orang luar menguasai diri kita sehingga kita kehilangan kendali, kemampuan komunikasi kita terbatas sehingga sulit mengungkapkan kehendak dan manajemen diri, emosi serta mental kita zonk. Analogi sederhananya jika kamu memiliki pohon anggur dan mangga dipekarangan rumah yang akan kamu rawat dan jaga kualitasnya buah yang mana, anggur/mangga ? yang akan kamu berikan dengan mudah ke orang yang mana ? mangga/anggur ? kenapa ? jawab sendiri……………….............

 

Dalam buku seni bersikap bodoh amat saya belajar bahwa kita tidak memiliki hak atas hidup orang lain begitupun orang lain tidak memiliki hak atas hidup kita dan ini jadi prinsip dasar saya untuk bergaul tanpa tendensi apapun sehingga saya tidak memiliki tanggungjawab apapun atas diri dan perasaan orang lain. Sehingga dengan prinsip ini kita akan belajar mengelola diri, emosi serta mental kita, akan memudahkan langkah kita untuk berfikir ini penting apa ngga, ini baik apa ngga, ini dampaknya ke saya, orang tua, keluarga bagaimana. Membatasi akses orang lain terhadap diri kita adalah priceless bukankah anggur sulit didapat dengan harga murah ?

 

Karna kita perempuan, kualitas diri adalah level untuk penentuan hidup.  Satu nasehat yang semua orang tua katakan pada anak perempuan di daerah saya yaitu ‘’taho si rawi ra ruku cou ma da ne’e mu’’ yang kalo diterjemahkan mengandung makna yang sangat dalam namun sayang kata-kata tersebut terkadang hanya jadi angin lalu padahal dibalik nasehat tersebut ada pinta agar anaknya menjadi pribadi yang baik dari orang tua yang memiliki beban tanggung jawab terhadap yang mereka lahirkan. Sedikit cerita dari yang saya alami (bukan perihal baik buruk) bahwa sebelum menikah saya tidak mengetahui banyak tentang orang yang akan menikahi saya (yang menjadi suami saat ini *Alhamdulillah) hanya sedikit memori 10 tahun lalu sewaktu dibangku SMA karena berada dalam satu lingkup organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) dan bantuan dari beberapa teman yang cukup dekat dengan beliau tapi entah mengapa saya yakin dengan orang ini lalu singkat cerita kami menikah dan setelah setahun menikah saya menyadari bahwa memang jodoh itu sesuai kualitas diri kita *sekali lagi ini bukan tentang baik ataupun buruk, banyak hal yang saya sadari bahwa setinggi anak tangga yang kamu naiki ya segitu jatah untuk jodoh yang kamu dapat. Selalu saya pikirkan bagaimana kalau dulu saya tidak berjilbab dengan baik, bagaimana kalau dulu saya tidak patuh beribadah minimal sholat, bagaimana kalau dulu saya tidak menyibukkan diri dengan kebaikan-kebaikan kecil apakah jodoh saya akan sama dengan yang saya dapatkan sekarang ? Alhamdulillah ‘Ala Qulli hall. 

Rabu, 12 Juli 2023

Ternyata menikah itu...

 


Setahun berlalu tulisan terakhir sebelum ini terpublish artinya setahun penuh mencoba menjalani dan menikmati kehidupan tanpa banyak bercakap di social media, teman-teman yang mengenal saya mungkin tahu betul bagaimana ocehan saya berseliweran di social media pada tahun-tahun sebelumnya daaan setiba-tiba berhenti berceloteh wkwk namun teman-teman juga pasti tahu dengan apa yang terjadi, yes I am Married hehe…

Menikah, menjadi istri lalu sekarang menjadi ibu adalah hal yang tidak tertebak oleh saya. Rasanya baru kemarin saya kesana kemari dengan ransel hijau andalan menikmati indahnya pantai, gunung, sawah rasanya baru kemarin saya mondar mandir memakai jas maron berceloteh didalam forum perkaderan IMM rasanya rasanya rasanya sepertinya terlalu banyak yang sudah dirasakan hingga Allah menakdirkan rasanya menjadi istri juga ibu dalam waktu yang tepat, Alhamdulillah…

Setelah mengenal dan gagal, dikenalkan lalu gagal, akhirnya Allah memberikan seseorang yang tanpa perlu perkenalan , wkwk. Saya pun masih tidak menyangka akan menikah dengan sosok ini dan hal ini menambah keyakinan saya bahwa memang jodoh itu tidak datang karna permintaan tetapi ia akan datang karna kepantasan. Sepanjang apapun kita meminta sama Allah untuk menikah jika segala hal dalam diri kita belum pantas untuk menikah ya tidak akan,  ini based on my story jadi sedikit subjektif tapi ini fakta. Menikah bukan persoalan umur, bukan persoalan status social, bukan persoalan karir jabatan apalagi, menikah itu takdir gesss. Lihat bagaimana kisah-kisah terdahulu dalam perjumpaannya dengan jodoh katakanlah kisah putri Rasulullah SAW Sayyidah Fatimah Az-zahra dengan Ali bin Abi Thalib jika diukur dengan kedudukan dunia (kekayaan dll) apakah mungkin ? sedangkan sebelum Rasulullah menikahkan anaknya dengan Ali,  Abu Bakar dan Umar bin Khatab yang dari segi harta dan kedudukan jauh lebih tinggi dari Ali datang melamar putrinya tapi tidak diterima oleh Rasulullah. Jodoh itu Ajaib, membuat kita takjub dengan jalannya bisa saja teman semasa sekolah, teman semasa kecil, teman kerja, teman organisasi hanya perlu dibuka jalannya. Sisihkan ruang penerimaan.

 

Jadi bagaimana pernikahan ? seru gesss, wkwk. Menikmati banyak rasa dalam satu waktu. Secara spesifiknya pernikahan sepertinya tidak bisa saya jabarkan karena terlalu subjektif  seperti yang orang katakan bahwa pernikahan itu hanya manis diawal itu juga subjektif setiap rumah tangga memiliki cerita tersendiri yang intinya tidak selalu baik juga tidak melulu buruk asal selalu memahami peran dan kedudukan masing-masing dalam rumah tangga dan mau sama-sama belajar tentunya karna setiap hari bahkan setiap saat rasanya selalu di uji oleh Allah kalau enggan belajar bagaimana bisa berhasil dengan ujiannya ? ah celotehnya terlalu banyak, mohon ampun wkwk. 

Jumat, 20 Mei 2022

Melangkah Memberi Arti

Ini ingatan yang bertahun-tahun saya simpan rapi dalam memori, sebuah perjalanan kebermanfaatan diri, perjuangan melawan ego dan terapi empati. Ini hanya sedikit cerita dari pilihan yang saya buat atas hidup. 

Throwback ke beberapa perjalanan menempa diri dengan hal-hal sederhana seperti belajar bersama anak-anak pelosok atau pesisir, berletih-letihan berjalanan kaki 6-8 jam menuju sebuah desa dipegunungan, naik perahu untuk mengunjungi anak-anak dipulau, melakukan kunjungan untuk anak-anak korban kebakaran dan menemani anak-anak korban banjir selama satu bulan hingga menjadi Relawan mewakili Dompu disalah satu Yayasan sosial Kemanusiaan Nasional. Alhamdulillah...

Siapa sangka mimpi sederhana yang tercatat sewaktu SMA Allah Ijabah, menjadi manusia dengan pengalaman-pengalaman kebermanfaatan. Sewalaupun pada kenyataannya tidak semudah yang saya tuliskan ini, karena untuk melakukan semua hal tersebut banyak juga hal yang dipertaruhkan, banyak keinginan yang dikubur, ego yang dikikis, kewajiban-kewajiban sebagai mahasiswa yang dilanggar. Namun untuk sekarang saya katakan semuanya worth it. 

Jawaban sederhana saya kenapa ingin hidup dengan perjalanan kebermanfaatan adalah saya tidak tau Allah memberi waktu saya untuk hidup berapa lama, saya berharap diwaktu yang singkat tersebut saya punya amalan yang bisa saya pertanggungjawabkan umur saya dihabiskan seperti apa di dunia. Sebagai manusia apalagi muslim tentu keyakinan adalah pondasi untuk kita menjalani hidup, entah bagaimana atau apakah ada orang yang hidup tanpa keyakinan, dan pilihan hidup yang tertulis ini adalah keyakinan yang ingin selalu saya pupuk sewalaupun mungkin nanti metodenya tidak seperti yang biasa dilakukan. Semoga Allah ridho atas semua pilihan hidup. Aamiin

Memang apa enaknya hidup jadi relawan ? Apalagi diumur yang seharusnya menuntut kita memiliki kemandirian secara finansial ? Bagaimana mengimbangi kebutuhan hidup dengan pilihan kebermanfaatan ? Ada masanya kita hidup untuk orang lain dan ada juga masanya kita hidup untuk diri kita. Semua hal ini sempat menjadi beban fikiran apalagi sebagai perempuan, namun kembali lagi ke keyakinan dan niat bahwa kita tidak akan diminta untuk menjadi saksi atas hidup orang lain ketika nanti di hisab pun orang lain tidak akan menjadi saksi atas hidup kita, sungguh anggota tubuh kitalah sendiri saksinya. Menjalani hidup dengan pilihan kebermanfaatan katakanlah sebagai relawan itu menurut saya profesi yang tak akan mampu dibayar dengan nominal seperti kutipan salah satu tokoh bahwa "kenapa relawan tidak dibayar ? Bukan karena tak bernilai, melainkan tak ternilai" (Anies Baswedan). Apa yang mampu membayar keikhlasan ? Ketika manusia pada umumnya memiliki jam kerja 8-10 jam/hari dan ketika memilih menjadi relawan hampir 24 jam waktu anda harus selalu siap. Hal ini saya rasakan ketika menjadi relawan banjir disalah satu kecamatan di Dompu (Hu'u) bersama tim Muhammadiyah Disaster Manajemen Center (MDMC) ketika saat itu harus melihat langsung isak tangis warga disaat banjir bandang melanda dengan minimnya jumlah relawan karena kedatangan banjir yang diluar prediksi, tempat evakuasi yang tidak mendukung, anak-anak yang harus ditangani karena ditinggal oleh orang tuanya untuk mengevakuasi barang-barang dirumah, ketersediaan logistik yang minim, obat-obatan terbatas, lokasi yang jauh dari perkotaan, duuuhhhh selalu saja menangis jika mengingat kejadian-kejadian saat itu. Dari hari itu tim kami memutuskan untuk bertahan lebih lama hingga tak terasa satu bulan menjadi warga sana. Untuk detailnya sepertinya butuh dibuatkan judul tersendiri sebab sangat banyak hal terjadi dan ingin juga saya bagikan, semoga sabar menunggu :)))

Tak ada manusia yang ingin hidup tanpa arti, anda pasti juga kan ? Namun terkadang kita gagal menemukan apa arti hidup itu sendiri. Let it flow bukan pilihan menjadi manusia apalagi hamba Allah yang mukmin. Butuh peta perjalanan dan untuk membuat peta kan harus ada titik point tujuannya. Sudah punya ?

Tidak banyak kata rupanya bisa saya tuangkan disini, sisanya hanya perasaan syukur serta bahagia atas semua perjalanan tersebut. Terima kasih sudah membuat saya merasa berarti.

Senin, 28 Maret 2022

BADNEWS

 


Digitalisasi, Seksualitas dan Pernikahan Dini adalah kabar buruk yang setiap hari kita saksikan dengan sengaja ataupun tidak, diinginkan ataupun tidak. Dari atas kendaraan kita jumpai manusia dengan gadgetnya sepanjang jalan, ditengah kesenjangan waktu bersama keluarga bukannya membahas tentang mimpi-mimpi masa depan eh justru sepanjang obrolan hanya berisi si A yang dilec*hkan oleh Saudar*nya, si B yang membunuh ibunya atau si C yang nekad minggat dari rumah karena memilih hidup dengan pacarnya yang akhirnya ditinggal kabur oleh pacarnya dalam keadaan hamil. Oh sungguh, bagaimana mungkin asyik bercerita tentang masa depan kalau jalannya telah ditutup dengan berita buruk seperti itu. Apa itu nyata ? ya, tentu dan inilah zaman yang kalian ciptakan. Selamat menikmati

Hidup dengan mimpi adalah salah satu kekayaan diri yang meski syukuri karna tidak semua orang bisa melakukannya namun apakah sekarang kekayaan tersebut masih hidup dalam diri setiap perempuan menjadi tanda tanya sebab kenyataan yang terjadi bahwa banyak perempuan yang harus menghapus paksa mimpi-mimpinya karna ketakutan baik dari dirinya maupun lingkungannya, saya bertemu dengan beberapa orang yang awalnya memiliki mimpi kuliah dikampus impiannya namun harus gagal karena terhalang izin orang tua melepas anak perempuan satu-satunya hidup sendiri dirantauan, juga beberapa kali bertukar cerita dengan teman sebaya bahkan ada yang lebih muda tentang kepedihan mereka mengurus anak-anaknya pasca ditinggal pergi sang suami, apalagi menyaksikan keamoralan anak-anak terhadap orang tua, keluarga, guru mereka sendiri.

Saya tidak mengajak untuk mencari siapa yang salah atau siapa yang benar, tapi dari yang saya fikir dan mungkin juga kalian tentang hal ini adalah kita kurang kendali atas diri kita, sedari kecil kita terbiasa menjadi bebek (ikut-ikutan) teman punya ini kita merengek untuk memilikinya juga tanpa kita tau apakah itu cocok dengan kita atau tidak katakanlah gadget, coba lihat dari umur berapa anak-anak sekarang memilikinya ? memiliki loh ya bukan menggunakan, dari SD! Menurut kalian sematang apa pikiran anak SD memilah informasi yang ada dalam gadget tersebut atau sebijak apa mereka menggunakan Aplikasi didalamnya ? terlebih mungkin di daerah-daerah yang katakanlah masih awam tentang gadget, bagaimana mereka mencerna semua hal tersebut dengan rasional ? saya pernah dibantah karena menyampaikan hal begini ke beberapa anak dengan alibi yang mereka lontarkan kalau  gadget adalah kebutuhan untuk sekolah dan penyemangatnya untuk belajar. Dek, kalian anggap apa orang tua kalian yang bekerja banting tulang ditengah terik menyengat kulit keriput mereka, kalian pandang sebagai apa guru yang berdiri berjam-jam didepan kelas kalian yang berusaha menjelaskan dengan bahasa yang sangat sederhana agar kalian paham padahal itu juga tidak mudah bagi mereka.  

Apa ini hal yang biasa ? tidak bestie, ini adalah kabar buruk dan entah kedepan nanti akan menjadi apa kenyataan pahit ini, apakah berkurang atau justru dianggap hal yang biasa. Hanya kamu, saya dan waktu yang bisa menjawab.

Dari beberapa hal diatas tentu ini menjadi sesuatu yang mesti kita risaukan dan menurutku jika kabar buruk ini ingin kita pangkas berarti kita harus siap terlibat. Jangan tunggu menjadi orang tua atau guru baru akan menjadi teladan dan mengakhiri cerita ini saya teringat dengan salah satu Nasihat Imam Al Ghazali ‘’Didiklah anakmu 25 tahun sebelum ia dilahirkan’’ yang jika dimaknai betapa peran menjadi teladan itu tidak semudah menjadi tiktokers, youtuber atau bahkan selebgram. Butuh effort yang sangat besar dan itu diciptakan dari kita sedini mungkin bukan saat kita menikah atau menjadi ibu.

Kamis, 11 November 2021

Fathers Day for my life

Pertama aku ingin mengucapkan selamat berbahagia untuk siapapun yang sedang memproklamirkan "Hari Ayah", jaga kebahagiaannya yah juga semoga Allah jaga ayah-ayah kita dimanapun berada. Aamiin allahuma aamiin
Memiliki sosok ranger's or hero dalam keluarga adalah salah satu kebahagiaan yang tak bisa kita ukur dengan kata happy or happiness karena darinya adalah sumber keutuhan yang nantinya mengantarkan kita pada substansi berkehidupan yaitu loving. Namun terkadang uniknya kehidupan adalah menciptakan ragam model kehidupan (rumah tangga), ada rumah tangga yang sempurna kehidupannya ayah ibu kakak adik lengkap, ada rumah tangga yang hidup hanya sepasang suami istri hingga mereka wafat juga ada rumah tangga yang salah satu orang tuanya berpisah entah karena divorce ataupun ajal. Well, apapun kondisinya kehidupan akan terus dilalui dengan apapun kondisinya :)))

Lets talk about father, Hari Ayah adalah titik dimana saya tidak ingin percaya terhadap laki-laki siapapun mau keluarga bahkan saudara saya sendiri, yang sudah mengenal saya mungkin sudah tahu betapa keras dan egoisnya saya ketika berbicara dengan laki-laki, betapa menjengkelkannya saya karena tidak ingin diperintah atau tunduk terhadap apa yang dikatakannya (nb. Jangan dicontoh, itu dulu :))). Yes,  that is me. Satu-satunya kepercayaan yang saya miliki terhadap laki-laki memudar puluhan tahun yang lalu. Ketika sosok yang saya harapkan kehadirannya tiap hari, sosok yang biasanya ketika saya bangun tidur digendongnya, sosok yang menanti saya didepan rumah dengan senyuman ketika saya pulang membawa rapor dengan ranking 1, sosok yang selalu meramaikan rumah dengan lagu-lagu bollywood, sosok yang menjadi role model pasangan kelak, HILANG!! Thats why Kehidupan bagi saya bukan hanya sekedar tentang bahagia sebab kalau kebahagiaan menjadi tolak ukur untuk saya jelas mungkin saya tidak akan menikmati kehidupan. 

Mudah ketika orang mengatakan yang berlalu biarlah berlalu, iya memang,  sayapun tidak menuntut untuk kehidupan berjalan sesuai keinginan saya atau mengembalikan keutuhan keluarga saya tapi hal yang sulit dan tidak banyak orang paham adalah setiap moment dalam hidup akan menjadi memori dan itu kekal. Saya sangat ingin melupakan saat saat ketika ayah mencium kening anak-anaknya dengan tulus, melupakan saat ayah menyuap anak-anaknya, melupakan saat ayah membawa kami keliling kota, atau melupakan moment-moment saat ibu ketar-ketir mencarikan uang untuk anaknya terus sekolah. Tidak mudah melupakan memori saat umur-umur seorang anak penuh dengan angan dengan cita-citanya. 

Besar diantara keluarga yang memiliki prioritas tinggi terhadap pendidikan adalah salah satu kelebihan yang mendorong saya untuk tetap bermimpi sewalaupun kehilangan sosok ayah dalam keluarga adalah tantangan besar namun pikiran kecilku bagaimana merubah itu menjadi motivasi besar bagi saya untuk belajar, menjadi anak pintar kebanggaan keluarga, menjadi yang teratas dalan perankingan dan ya Alhamdulillah semuanya terwujud bahkan menjadikan diri manusia dengan segudang mimpi tentang kebermanfaatan mimpi menjadi pejuang sosial-kemanusiaan terlebih pendidikan bahwa pendidikan tak boleh terhenti hanya karena keterbatasan motivasi, ekonomi bahkan pengetahuan. 

Lalu dengan hal itu apakah menjadikan saya trauma terhadap suatu hubungan ? I said yes, tapi bukan berarti untuk saya tidak ingin menjalani fase kehidupan tersebut (berkeluarga) tentu ingin, sangat ingin. Namun hal besar yang saya perlajari dari itu semua adalah segala hal yang akan dijalani dalam sebuah keluarga tidak bisa dijawab hanya dengan kata ingin. Juga tidak bisa dijawab dengan ungkapan "nggak semua laki-laki seperti itu" iya paham, tentu semua orang bahkan beda. Hanya saja dalam hal ini standarisasi itu perlu, pointnya bukan pada hanya sekedar kenyamanan, bukan hanya pada finansial melainkan Agama. Siap beradaptasi dengan visi-misi juga karakter satu sama lain. 

Dan itu menjadi PR besar dalam diri saya pribadi terlebih dahulu untuk banyak belajar menjadi manusia patuh serta taat terhadap Agama juga suami nantinya, sabar juga ikhlas dan menjadi sebaik-baik perempuan tentunya dengan segala kewajibannya. 

The last aku ingin nitip pesan kepada laki-laki bahwa perempuan yang akan atau sedang bersamamu adalah juga perempuan yang pada awalnya memiliki mimpi serta cita-cita besar dalam hidupnya tetapi mereka redam karena telah memilih bakti kepadamu kepada Agama, Kalaupun kamu tidak bisa membantu atau membiarkannya meraih mimpinya tersebut setidaknya jangan remehkan posisinya. Perempuan menjadi manusia patuh ketika bersamamu karena ia yakin kamu adalah penentu arah untuk kebaikan hidupnya. 

Kamis, 04 November 2021

Perempuan dalam kurungan Fashion dan Profesi


Selamat malam teman-teman, sehat-sehat ya. Biarkan dunia yang sedang tidak baik-baik saja kamu jangan, hehe… o ya tulisan kali ini aku mau curhat *canda curhat, akibat dari beberapa waktu terakhir sedang banyak membaca bagaimana perjuangan perempuan dari masa ke masa untuk kemerdekaan serta kehormatan dirinya mungkin kita banyak yang sudah membaca kisah Su'airah Al-Asadiyyah salah satu perempuan yang dijamin masuk syurga karena sangat teguh mempertahankan izzah dan iffah nya sewalaupun dalam keadaan ia sedang sakit parah (Epilepsi). Adakah zaman sekarang bisa kita jumpai hal seperti ini ? Jangankan sakit, dalam kondisi sehat pun kita rela menggadaikan kehormatan, terpengaruh dengan model fashion style yang tidak mendahulukan adab berpakaian bagi perempuan. Perempuan dizaman sekarang lebih memilih mengimani apa yang diberikan oleh zaman tidak ada lagi istilah rasional dalam berfikir dan bertindak. Ketika mengikuti wisuda ia rela menanggalkan jilbabnya diatas dada hanya karena alasan trendi, ketika menikah ia rela melilit jilbabnya dileher hanya karena alasan stylenya begini dll, kehormatanmu lebih berharga dari style dan trendi loh :)))

Hal yang lebih menggemparkan lagi adalah dunia sangat senang mempertontonkan perempuan sebagai objek dalam banyak hal, model fashion, Brand Ambassador bahkan perempuan memiliki ajang khusus :( yang seharusnya perempuan ini adalah sosok yang sangat dijaga kehormatannya, diatur keberadaan hidupnya dalam islam mulai dari cara berpakaian hingga bersikap. Dunia membuat perempuan-perempuan menjadi bangga dengan gelar Miss dan sebagainya dengan memakaikan perempuan-perempuan tersebut dengan mahkota. Sayang, mahkota mu bukan itu melainkan sesuatu yang telah kamu jual untuk orang menontonnya secara cuma-cuma :(

Contoh lain dari pedihnya menjadi perempuan di era modernis adalah pakaian perempuan tidak lagi menjadi pelindung baginya melainkan hanya sebagai style bahkan strata sosial bisa berpengaruh terhadap style yang ditunjukan yang lagi-lagi itu sama sekali tidak memperlihatkan kehormatan perempuan, pakaian bagi perempuan sekarang bukannya menutup malah membungkus, bukannya melindungi malah menghantui fikiran laki-laki. Merasa tidak percaya diri dengan pakaian yang disyariatkan dengan alibi lingkungan pekerjaan tidak memperbolehkan berpakaian seperti itu, lingkungan perkuliahan saya tidak mendukung dan sebagainya, berkembangnya teknologi serta ilmu pengetahuan ternyata berbanding terbalik dengan akal pikiran manusia, semakin lama manusia memiliki pikiran yang sempit dan tidak berdasar rasional. Hawa nafsu masih menjadi tuhan untuk setiap diri terlebih corporat yang memiliki aturan sampah.

Nyatanya menjadi perempuan yang memiliki pendirian dan komit terhadap itu sekarang tidak mudah terlebih ketika dibenturkan dengan beberapa kondisi yang mendorongnya, sebab tidak yakin dengan diri sendiri, tidak sabar menjalani keterbatasan, tidak siap diremehkan mau tidak mau perempuan masuk kedalam karung korporat dan hidup menjadi budak. Naudzubillah
 
Dengan menuliskan ini saya jadi berfikir untuk yang suka menuntut dihargai dan dihormati tetapi dasarnya kita tidak menghormati diri kita sendiri apakah pantas menuntut demikian ? kalau diri kita aja bisa diatur oleh sebuah kontestasi dan materi apakah pantas kita mengharap empati ? anehnya kita sangat senang diatur oleh zaman tapi tidak dengan Al-qur’an yang padahal jelas bedanya kemana kita kan dibawa oleh keduanya tersebut.
 
 
 

Jumat, 14 Mei 2021

Perempuan dan Personal Branding, Pentingkah ?



         Halooo, finally yah jumpa lagi bersama tulisan saya yang sangat musiman ini wkwk. Bytheway Taqobbalallahu minna wa mingkum teman-teman, mohon maaf lahir dan batin. Kali ini saya mau cerita tentang personal branding nih wa bil khusus untuk perempuan, why ? karena perempuan adalah makhluk yang suka ikut-ikutan, kurang percaya diri sehingga ia susah menemukan jati diri yang akhirnya suka menyalahkan takdir.

           Oke untuk awal kita bahas dulu apa sih itu Personal Branding ? sederhananya personal branding itu adalah seperti apa kita ingin dikenal/dipandang oleh orang lain/publik, berarti berkaitan dengan cara kita membawa diri, memposisikan diri dihadapan publik. Lalu apakah personal branding itu penting ? tentu, ketika seseorang memiliki personal branding yang kuat maka semakin mudah seseorang tersebut mendapatkan penilaian positif dari orang lain, sebagai seorang influencer atau pendakwah hal ini sangat penting karena dengan penilaian positif yang terbangun memudahkan masyarakat menerima apa yang disampaikan olehnya sehingga nilai kebaikannya tercapai.

           Sebagai seorang perempuan juga memiliki personal branding sangat penting. dari yang saya perhatikan ditengah-tengah kehidupan sosial bahwa perempuan lebih suka ikut-ikutan justru merasa aneh ketika dirinya berbeda dari orang lain,  merasa insecure dengan hal-hal yang orang lain miliki sedangkan dia tidak miliki yang akhirnya suka protes, ya allah kenapa begini sekali hidupku. tidak bermanfaat sekali bukan ?. Sebagai manusia kita mesti tau dulu bahwa setiap kita memiliki ciri khas tersendiri, setiap diri memiliki keunikan masing-masing. Saudara kembar aja punya karakter yang berbeda. Awal kita mesti sadar ini dulu, kebanyakan dari kita (re:perempuan) cenderung merasa aneh ketika dirinya beda dari kebanyakan teman sepergaulannya padahal no worries misal teman sepergaulanmu menyukai warna pink dan kamu warna hitam atau teman sepergaulanmu suka tampil glamour sedang kamu ndak. Ya udah nyamannya kamu seperti itu, jangan maksa.

          Nah sekarang kenapa perempuan juga penting untuk memiliki persoalan branding, selain dari yang saya sampaikan diatas bahwa perempuan adalah makhluk dengan segudang masalah, teriak sana sini menuntut kesetaraan gender tapi yang ia pahami tentang gender hanya pekerjaan dan rumah tangga, menuntut dihargai sana-sini tapi attitude serta akalnya mandet, terus berkeliaran tanpa menutup aurat, Allah aja yang maha pengampun nggak terima hambanya yang sholat dengan aurat terbuka. Personal branding macam apa yang mau dibangun kalo dimata Allah aja udah cacat? Hmmm kan kebawa emosi, sorry gesss bukan maksud untuk merendahkan perempuan namun memang terkadang kita mesti paham tupoksi serta porsi sebagai hamba juga antarmanusia.

          Bagaimana cara perempuan membangun personal branding ? saya copas dari Farah Qoonita dalam sebuah podcastnya menyebutkan bahwa ada tiga hal yang bisa membangun personal brandings ebagai seorang muslimah yaitu :

1.       Akhlak, kita mesti tahu dulu akhlak sebagai seorang perempuan seperti apa, batasan-batasan sebagai seorang perempuan seperti apa. ‘’You must know who is you’’

2.       Skill, nah ini yang saya bahas diatas bahwa tiap kita memiliki keunikan masing-masing, tugasnya adalah kita cari kemampuan atau keunggulan kita di bidang apa atau kita ingin dikenal sebagai apa. Jika ingin dikenal sebagai seorang aktivis semisal ya lakukan pendekatan-pendekatan yang berkaitan dengan itu mungkin dengan mulai banyak membaca buku-buku gerakan misal,  semisal ingin dikenal sebagai volunteer semisal ya lakukan pendekatan juga yang berkaitan dengan dunia kerelawanan. Skill mesti dibangun

3.       Nilai, ini yang menjadi muara dari skill yang kita bangun, nilai kebermanfaatan. Sejauh mana kebermanfaatan kita terhadap skill yang kita bangun. Personal branding tanpa nilai itu sia-sia. Sama seperti ketika kamu melewati jalan berkilo-kilo meter namun ternyata buntu.

       Jadi sebenarnya personal branding membantu kita mengenal dan mengetahui kemampuan diri sehingga memudahkan kita memposisikan diri dihadapan publik sesuai fitrahnya kita sebagai perempuan.   Gimana paham nggak ? duhhh ampun-ampun ya kalo kurang ngerti, maklum sedang belajar juga 😊

       Semangat ya membangun personal brandingnya, ingat jangan takut berbeda dan bersuara pastinya, dunia ini luas kalo hanya laki-laki yang berdakwah kapan islam jayanya ?

Bye, semoga bermanfaat