Perempuan dan percintaan adalah hal yang sama sulit dipahami, iya ga ? wkwk… entah mengapa sayapun sebagai perempuan menyadari hal tersebut rasanya sulit mengungkapkan apa yang diri inginkan dan berharap orang mengerti keinginan tersebut, anehhh. Sepertipun percintaan penuh tebakan kerap kali kita mikir mungkin ini ternyata itu, kayaknya ia ternyata tidak, sepertinya oke ternyata palsu dan banyak lagi hal-hal yang membuat kita bingung dan dengan bijaknya kita (re:perempuan) suka membuat kesimpulan sendiri, iya kan ? padahal mah orang hanya sekedar penasaran eh tapi disambut dengan perasaan daannn akhirnya pusing sendiri, stress sendiri, galau sendiri padahal yang salah ? diri sendiri. Kira-kira dimana letak kekeliruan kita terhadap hal-hal yang membingungkan tersebut ? coba yuuk kita bahas
Kenapa kebanyakan perempuan selalu
kalah dalam hal-hal percintaan dalam beberapa kasus perempuan selalu menjadi
korban dari kisah percintaan hingga akhirnya memilih mengakhiri hidup karna
kekecewaan dan patah hati, sederhana karena kita tidak punya prinsip, kita
tidak memiliki batasan untuk orang luar menguasai diri kita sehingga kita
kehilangan kendali, kemampuan komunikasi kita terbatas sehingga sulit
mengungkapkan kehendak dan manajemen diri, emosi serta mental kita zonk.
Analogi sederhananya jika kamu memiliki pohon anggur dan mangga dipekarangan
rumah yang akan kamu rawat dan jaga kualitasnya buah yang mana, anggur/mangga ?
yang akan kamu berikan dengan mudah ke orang yang mana ? mangga/anggur ? kenapa
? jawab sendiri……………….............
Dalam buku seni bersikap bodoh amat
saya belajar bahwa kita tidak memiliki hak atas hidup orang lain begitupun
orang lain tidak memiliki hak atas hidup kita dan ini jadi prinsip dasar saya
untuk bergaul tanpa tendensi apapun sehingga saya tidak memiliki tanggungjawab
apapun atas diri dan perasaan orang lain. Sehingga dengan prinsip ini kita akan
belajar mengelola diri, emosi serta mental kita, akan memudahkan langkah kita
untuk berfikir ini penting apa ngga, ini baik apa ngga, ini dampaknya ke saya,
orang tua, keluarga bagaimana. Membatasi akses orang lain terhadap diri kita adalah
priceless bukankah anggur sulit didapat dengan harga murah ?
Karna kita perempuan, kualitas diri
adalah level untuk penentuan hidup. Satu
nasehat yang semua orang tua katakan pada anak perempuan di daerah saya yaitu ‘’taho
si rawi ra ruku cou ma da ne’e mu’’ yang kalo diterjemahkan mengandung makna
yang sangat dalam namun sayang kata-kata tersebut terkadang hanya jadi angin
lalu padahal dibalik nasehat tersebut ada pinta agar anaknya menjadi pribadi
yang baik dari orang tua yang memiliki beban tanggung jawab terhadap yang
mereka lahirkan. Sedikit cerita dari yang saya alami (bukan perihal baik buruk)
bahwa sebelum menikah saya tidak mengetahui banyak tentang orang yang akan
menikahi saya (yang menjadi suami saat ini *Alhamdulillah) hanya sedikit memori
10 tahun lalu sewaktu dibangku SMA karena berada dalam satu lingkup organisasi
Pelajar Islam Indonesia (PII) dan bantuan dari beberapa teman yang cukup dekat
dengan beliau tapi entah mengapa saya yakin dengan orang ini lalu singkat
cerita kami menikah dan setelah setahun menikah saya menyadari bahwa memang
jodoh itu sesuai kualitas diri kita *sekali lagi ini bukan tentang baik ataupun
buruk, banyak hal yang saya sadari bahwa setinggi anak tangga yang kamu naiki
ya segitu jatah untuk jodoh yang kamu dapat. Selalu saya pikirkan bagaimana kalau
dulu saya tidak berjilbab dengan baik, bagaimana kalau dulu saya tidak patuh
beribadah minimal sholat, bagaimana kalau dulu saya tidak menyibukkan diri
dengan kebaikan-kebaikan kecil apakah jodoh saya akan sama dengan yang saya
dapatkan sekarang ? Alhamdulillah ‘Ala Qulli hall.



