Digitalisasi, Seksualitas dan Pernikahan
Dini adalah kabar buruk yang setiap hari kita saksikan dengan sengaja ataupun
tidak, diinginkan ataupun tidak. Dari atas kendaraan kita jumpai manusia dengan
gadgetnya sepanjang jalan, ditengah kesenjangan waktu bersama keluarga bukannya
membahas tentang mimpi-mimpi masa depan eh justru sepanjang obrolan hanya berisi
si A yang dilec*hkan oleh Saudar*nya, si B yang membunuh ibunya atau si C yang
nekad minggat dari rumah karena memilih hidup dengan pacarnya yang akhirnya
ditinggal kabur oleh pacarnya dalam keadaan hamil. Oh sungguh, bagaimana
mungkin asyik bercerita tentang masa depan kalau jalannya telah ditutup dengan
berita buruk seperti itu. Apa itu nyata ? ya, tentu dan inilah zaman yang
kalian ciptakan. Selamat menikmati
Hidup dengan mimpi adalah salah satu kekayaan diri yang meski syukuri karna tidak semua orang bisa melakukannya namun apakah sekarang kekayaan tersebut masih hidup dalam diri setiap perempuan menjadi tanda tanya sebab kenyataan yang terjadi bahwa banyak perempuan yang harus menghapus paksa mimpi-mimpinya karna ketakutan baik dari dirinya maupun lingkungannya, saya bertemu dengan beberapa orang yang awalnya memiliki mimpi kuliah dikampus impiannya namun harus gagal karena terhalang izin orang tua melepas anak perempuan satu-satunya hidup sendiri dirantauan, juga beberapa kali bertukar cerita dengan teman sebaya bahkan ada yang lebih muda tentang kepedihan mereka mengurus anak-anaknya pasca ditinggal pergi sang suami, apalagi menyaksikan keamoralan anak-anak terhadap orang tua, keluarga, guru mereka sendiri.
Saya tidak mengajak untuk mencari
siapa yang salah atau siapa yang benar, tapi dari yang saya fikir dan mungkin
juga kalian tentang hal ini adalah kita kurang kendali atas diri kita, sedari
kecil kita terbiasa menjadi bebek (ikut-ikutan) teman punya ini kita merengek
untuk memilikinya juga tanpa kita tau apakah itu cocok dengan kita atau tidak
katakanlah gadget, coba lihat dari umur berapa anak-anak sekarang memilikinya ?
memiliki loh ya bukan menggunakan, dari SD! Menurut kalian sematang apa pikiran
anak SD memilah informasi yang ada dalam gadget tersebut atau sebijak apa
mereka menggunakan Aplikasi didalamnya ? terlebih mungkin di daerah-daerah yang
katakanlah masih awam tentang gadget, bagaimana mereka mencerna semua hal
tersebut dengan rasional ? saya pernah dibantah karena menyampaikan hal begini
ke beberapa anak dengan alibi yang mereka lontarkan kalau gadget adalah kebutuhan untuk sekolah dan
penyemangatnya untuk belajar. Dek, kalian anggap apa orang tua kalian yang
bekerja banting tulang ditengah terik menyengat kulit keriput mereka, kalian
pandang sebagai apa guru yang berdiri berjam-jam didepan kelas kalian yang
berusaha menjelaskan dengan bahasa yang sangat sederhana agar kalian paham
padahal itu juga tidak mudah bagi mereka.
Apa ini hal yang biasa ? tidak bestie, ini adalah kabar buruk dan entah kedepan nanti akan menjadi apa kenyataan pahit ini, apakah berkurang atau justru dianggap hal yang biasa. Hanya kamu, saya dan waktu yang bisa menjawab.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar