Senin, 28 Maret 2022

BADNEWS

 


Digitalisasi, Seksualitas dan Pernikahan Dini adalah kabar buruk yang setiap hari kita saksikan dengan sengaja ataupun tidak, diinginkan ataupun tidak. Dari atas kendaraan kita jumpai manusia dengan gadgetnya sepanjang jalan, ditengah kesenjangan waktu bersama keluarga bukannya membahas tentang mimpi-mimpi masa depan eh justru sepanjang obrolan hanya berisi si A yang dilec*hkan oleh Saudar*nya, si B yang membunuh ibunya atau si C yang nekad minggat dari rumah karena memilih hidup dengan pacarnya yang akhirnya ditinggal kabur oleh pacarnya dalam keadaan hamil. Oh sungguh, bagaimana mungkin asyik bercerita tentang masa depan kalau jalannya telah ditutup dengan berita buruk seperti itu. Apa itu nyata ? ya, tentu dan inilah zaman yang kalian ciptakan. Selamat menikmati

Hidup dengan mimpi adalah salah satu kekayaan diri yang meski syukuri karna tidak semua orang bisa melakukannya namun apakah sekarang kekayaan tersebut masih hidup dalam diri setiap perempuan menjadi tanda tanya sebab kenyataan yang terjadi bahwa banyak perempuan yang harus menghapus paksa mimpi-mimpinya karna ketakutan baik dari dirinya maupun lingkungannya, saya bertemu dengan beberapa orang yang awalnya memiliki mimpi kuliah dikampus impiannya namun harus gagal karena terhalang izin orang tua melepas anak perempuan satu-satunya hidup sendiri dirantauan, juga beberapa kali bertukar cerita dengan teman sebaya bahkan ada yang lebih muda tentang kepedihan mereka mengurus anak-anaknya pasca ditinggal pergi sang suami, apalagi menyaksikan keamoralan anak-anak terhadap orang tua, keluarga, guru mereka sendiri.

Saya tidak mengajak untuk mencari siapa yang salah atau siapa yang benar, tapi dari yang saya fikir dan mungkin juga kalian tentang hal ini adalah kita kurang kendali atas diri kita, sedari kecil kita terbiasa menjadi bebek (ikut-ikutan) teman punya ini kita merengek untuk memilikinya juga tanpa kita tau apakah itu cocok dengan kita atau tidak katakanlah gadget, coba lihat dari umur berapa anak-anak sekarang memilikinya ? memiliki loh ya bukan menggunakan, dari SD! Menurut kalian sematang apa pikiran anak SD memilah informasi yang ada dalam gadget tersebut atau sebijak apa mereka menggunakan Aplikasi didalamnya ? terlebih mungkin di daerah-daerah yang katakanlah masih awam tentang gadget, bagaimana mereka mencerna semua hal tersebut dengan rasional ? saya pernah dibantah karena menyampaikan hal begini ke beberapa anak dengan alibi yang mereka lontarkan kalau  gadget adalah kebutuhan untuk sekolah dan penyemangatnya untuk belajar. Dek, kalian anggap apa orang tua kalian yang bekerja banting tulang ditengah terik menyengat kulit keriput mereka, kalian pandang sebagai apa guru yang berdiri berjam-jam didepan kelas kalian yang berusaha menjelaskan dengan bahasa yang sangat sederhana agar kalian paham padahal itu juga tidak mudah bagi mereka.  

Apa ini hal yang biasa ? tidak bestie, ini adalah kabar buruk dan entah kedepan nanti akan menjadi apa kenyataan pahit ini, apakah berkurang atau justru dianggap hal yang biasa. Hanya kamu, saya dan waktu yang bisa menjawab.

Dari beberapa hal diatas tentu ini menjadi sesuatu yang mesti kita risaukan dan menurutku jika kabar buruk ini ingin kita pangkas berarti kita harus siap terlibat. Jangan tunggu menjadi orang tua atau guru baru akan menjadi teladan dan mengakhiri cerita ini saya teringat dengan salah satu Nasihat Imam Al Ghazali ‘’Didiklah anakmu 25 tahun sebelum ia dilahirkan’’ yang jika dimaknai betapa peran menjadi teladan itu tidak semudah menjadi tiktokers, youtuber atau bahkan selebgram. Butuh effort yang sangat besar dan itu diciptakan dari kita sedini mungkin bukan saat kita menikah atau menjadi ibu.