Memiliki sosok ranger's or hero dalam keluarga adalah salah satu kebahagiaan yang tak bisa kita ukur dengan kata happy or happiness karena darinya adalah sumber keutuhan yang nantinya mengantarkan kita pada substansi berkehidupan yaitu loving. Namun terkadang uniknya kehidupan adalah menciptakan ragam model kehidupan (rumah tangga), ada rumah tangga yang sempurna kehidupannya ayah ibu kakak adik lengkap, ada rumah tangga yang hidup hanya sepasang suami istri hingga mereka wafat juga ada rumah tangga yang salah satu orang tuanya berpisah entah karena divorce ataupun ajal. Well, apapun kondisinya kehidupan akan terus dilalui dengan apapun kondisinya :)))
Lets talk about father, Hari Ayah adalah titik dimana saya tidak ingin percaya terhadap laki-laki siapapun mau keluarga bahkan saudara saya sendiri, yang sudah mengenal saya mungkin sudah tahu betapa keras dan egoisnya saya ketika berbicara dengan laki-laki, betapa menjengkelkannya saya karena tidak ingin diperintah atau tunduk terhadap apa yang dikatakannya (nb. Jangan dicontoh, itu dulu :))). Yes, that is me. Satu-satunya kepercayaan yang saya miliki terhadap laki-laki memudar puluhan tahun yang lalu. Ketika sosok yang saya harapkan kehadirannya tiap hari, sosok yang biasanya ketika saya bangun tidur digendongnya, sosok yang menanti saya didepan rumah dengan senyuman ketika saya pulang membawa rapor dengan ranking 1, sosok yang selalu meramaikan rumah dengan lagu-lagu bollywood, sosok yang menjadi role model pasangan kelak, HILANG!! Thats why Kehidupan bagi saya bukan hanya sekedar tentang bahagia sebab kalau kebahagiaan menjadi tolak ukur untuk saya jelas mungkin saya tidak akan menikmati kehidupan.
Mudah ketika orang mengatakan yang berlalu biarlah berlalu, iya memang, sayapun tidak menuntut untuk kehidupan berjalan sesuai keinginan saya atau mengembalikan keutuhan keluarga saya tapi hal yang sulit dan tidak banyak orang paham adalah setiap moment dalam hidup akan menjadi memori dan itu kekal. Saya sangat ingin melupakan saat saat ketika ayah mencium kening anak-anaknya dengan tulus, melupakan saat ayah menyuap anak-anaknya, melupakan saat ayah membawa kami keliling kota, atau melupakan moment-moment saat ibu ketar-ketir mencarikan uang untuk anaknya terus sekolah. Tidak mudah melupakan memori saat umur-umur seorang anak penuh dengan angan dengan cita-citanya.
Besar diantara keluarga yang memiliki prioritas tinggi terhadap pendidikan adalah salah satu kelebihan yang mendorong saya untuk tetap bermimpi sewalaupun kehilangan sosok ayah dalam keluarga adalah tantangan besar namun pikiran kecilku bagaimana merubah itu menjadi motivasi besar bagi saya untuk belajar, menjadi anak pintar kebanggaan keluarga, menjadi yang teratas dalan perankingan dan ya Alhamdulillah semuanya terwujud bahkan menjadikan diri manusia dengan segudang mimpi tentang kebermanfaatan mimpi menjadi pejuang sosial-kemanusiaan terlebih pendidikan bahwa pendidikan tak boleh terhenti hanya karena keterbatasan motivasi, ekonomi bahkan pengetahuan.
Lalu dengan hal itu apakah menjadikan saya trauma terhadap suatu hubungan ? I said yes, tapi bukan berarti untuk saya tidak ingin menjalani fase kehidupan tersebut (berkeluarga) tentu ingin, sangat ingin. Namun hal besar yang saya perlajari dari itu semua adalah segala hal yang akan dijalani dalam sebuah keluarga tidak bisa dijawab hanya dengan kata ingin. Juga tidak bisa dijawab dengan ungkapan "nggak semua laki-laki seperti itu" iya paham, tentu semua orang bahkan beda. Hanya saja dalam hal ini standarisasi itu perlu, pointnya bukan pada hanya sekedar kenyamanan, bukan hanya pada finansial melainkan Agama. Siap beradaptasi dengan visi-misi juga karakter satu sama lain.
Dan itu menjadi PR besar dalam diri saya pribadi terlebih dahulu untuk banyak belajar menjadi manusia patuh serta taat terhadap Agama juga suami nantinya, sabar juga ikhlas dan menjadi sebaik-baik perempuan tentunya dengan segala kewajibannya.
The last aku ingin nitip pesan kepada laki-laki bahwa perempuan yang akan atau sedang bersamamu adalah juga perempuan yang pada awalnya memiliki mimpi serta cita-cita besar dalam hidupnya tetapi mereka redam karena telah memilih bakti kepadamu kepada Agama, Kalaupun kamu tidak bisa membantu atau membiarkannya meraih mimpinya tersebut setidaknya jangan remehkan posisinya. Perempuan menjadi manusia patuh ketika bersamamu karena ia yakin kamu adalah penentu arah untuk kebaikan hidupnya.