Kamis, 11 November 2021

Fathers Day for my life

Pertama aku ingin mengucapkan selamat berbahagia untuk siapapun yang sedang memproklamirkan "Hari Ayah", jaga kebahagiaannya yah juga semoga Allah jaga ayah-ayah kita dimanapun berada. Aamiin allahuma aamiin
Memiliki sosok ranger's or hero dalam keluarga adalah salah satu kebahagiaan yang tak bisa kita ukur dengan kata happy or happiness karena darinya adalah sumber keutuhan yang nantinya mengantarkan kita pada substansi berkehidupan yaitu loving. Namun terkadang uniknya kehidupan adalah menciptakan ragam model kehidupan (rumah tangga), ada rumah tangga yang sempurna kehidupannya ayah ibu kakak adik lengkap, ada rumah tangga yang hidup hanya sepasang suami istri hingga mereka wafat juga ada rumah tangga yang salah satu orang tuanya berpisah entah karena divorce ataupun ajal. Well, apapun kondisinya kehidupan akan terus dilalui dengan apapun kondisinya :)))

Lets talk about father, Hari Ayah adalah titik dimana saya tidak ingin percaya terhadap laki-laki siapapun mau keluarga bahkan saudara saya sendiri, yang sudah mengenal saya mungkin sudah tahu betapa keras dan egoisnya saya ketika berbicara dengan laki-laki, betapa menjengkelkannya saya karena tidak ingin diperintah atau tunduk terhadap apa yang dikatakannya (nb. Jangan dicontoh, itu dulu :))). Yes,  that is me. Satu-satunya kepercayaan yang saya miliki terhadap laki-laki memudar puluhan tahun yang lalu. Ketika sosok yang saya harapkan kehadirannya tiap hari, sosok yang biasanya ketika saya bangun tidur digendongnya, sosok yang menanti saya didepan rumah dengan senyuman ketika saya pulang membawa rapor dengan ranking 1, sosok yang selalu meramaikan rumah dengan lagu-lagu bollywood, sosok yang menjadi role model pasangan kelak, HILANG!! Thats why Kehidupan bagi saya bukan hanya sekedar tentang bahagia sebab kalau kebahagiaan menjadi tolak ukur untuk saya jelas mungkin saya tidak akan menikmati kehidupan. 

Mudah ketika orang mengatakan yang berlalu biarlah berlalu, iya memang,  sayapun tidak menuntut untuk kehidupan berjalan sesuai keinginan saya atau mengembalikan keutuhan keluarga saya tapi hal yang sulit dan tidak banyak orang paham adalah setiap moment dalam hidup akan menjadi memori dan itu kekal. Saya sangat ingin melupakan saat saat ketika ayah mencium kening anak-anaknya dengan tulus, melupakan saat ayah menyuap anak-anaknya, melupakan saat ayah membawa kami keliling kota, atau melupakan moment-moment saat ibu ketar-ketir mencarikan uang untuk anaknya terus sekolah. Tidak mudah melupakan memori saat umur-umur seorang anak penuh dengan angan dengan cita-citanya. 

Besar diantara keluarga yang memiliki prioritas tinggi terhadap pendidikan adalah salah satu kelebihan yang mendorong saya untuk tetap bermimpi sewalaupun kehilangan sosok ayah dalam keluarga adalah tantangan besar namun pikiran kecilku bagaimana merubah itu menjadi motivasi besar bagi saya untuk belajar, menjadi anak pintar kebanggaan keluarga, menjadi yang teratas dalan perankingan dan ya Alhamdulillah semuanya terwujud bahkan menjadikan diri manusia dengan segudang mimpi tentang kebermanfaatan mimpi menjadi pejuang sosial-kemanusiaan terlebih pendidikan bahwa pendidikan tak boleh terhenti hanya karena keterbatasan motivasi, ekonomi bahkan pengetahuan. 

Lalu dengan hal itu apakah menjadikan saya trauma terhadap suatu hubungan ? I said yes, tapi bukan berarti untuk saya tidak ingin menjalani fase kehidupan tersebut (berkeluarga) tentu ingin, sangat ingin. Namun hal besar yang saya perlajari dari itu semua adalah segala hal yang akan dijalani dalam sebuah keluarga tidak bisa dijawab hanya dengan kata ingin. Juga tidak bisa dijawab dengan ungkapan "nggak semua laki-laki seperti itu" iya paham, tentu semua orang bahkan beda. Hanya saja dalam hal ini standarisasi itu perlu, pointnya bukan pada hanya sekedar kenyamanan, bukan hanya pada finansial melainkan Agama. Siap beradaptasi dengan visi-misi juga karakter satu sama lain. 

Dan itu menjadi PR besar dalam diri saya pribadi terlebih dahulu untuk banyak belajar menjadi manusia patuh serta taat terhadap Agama juga suami nantinya, sabar juga ikhlas dan menjadi sebaik-baik perempuan tentunya dengan segala kewajibannya. 

The last aku ingin nitip pesan kepada laki-laki bahwa perempuan yang akan atau sedang bersamamu adalah juga perempuan yang pada awalnya memiliki mimpi serta cita-cita besar dalam hidupnya tetapi mereka redam karena telah memilih bakti kepadamu kepada Agama, Kalaupun kamu tidak bisa membantu atau membiarkannya meraih mimpinya tersebut setidaknya jangan remehkan posisinya. Perempuan menjadi manusia patuh ketika bersamamu karena ia yakin kamu adalah penentu arah untuk kebaikan hidupnya. 

Kamis, 04 November 2021

Perempuan dalam kurungan Fashion dan Profesi


Selamat malam teman-teman, sehat-sehat ya. Biarkan dunia yang sedang tidak baik-baik saja kamu jangan, hehe… o ya tulisan kali ini aku mau curhat *canda curhat, akibat dari beberapa waktu terakhir sedang banyak membaca bagaimana perjuangan perempuan dari masa ke masa untuk kemerdekaan serta kehormatan dirinya mungkin kita banyak yang sudah membaca kisah Su'airah Al-Asadiyyah salah satu perempuan yang dijamin masuk syurga karena sangat teguh mempertahankan izzah dan iffah nya sewalaupun dalam keadaan ia sedang sakit parah (Epilepsi). Adakah zaman sekarang bisa kita jumpai hal seperti ini ? Jangankan sakit, dalam kondisi sehat pun kita rela menggadaikan kehormatan, terpengaruh dengan model fashion style yang tidak mendahulukan adab berpakaian bagi perempuan. Perempuan dizaman sekarang lebih memilih mengimani apa yang diberikan oleh zaman tidak ada lagi istilah rasional dalam berfikir dan bertindak. Ketika mengikuti wisuda ia rela menanggalkan jilbabnya diatas dada hanya karena alasan trendi, ketika menikah ia rela melilit jilbabnya dileher hanya karena alasan stylenya begini dll, kehormatanmu lebih berharga dari style dan trendi loh :)))

Hal yang lebih menggemparkan lagi adalah dunia sangat senang mempertontonkan perempuan sebagai objek dalam banyak hal, model fashion, Brand Ambassador bahkan perempuan memiliki ajang khusus :( yang seharusnya perempuan ini adalah sosok yang sangat dijaga kehormatannya, diatur keberadaan hidupnya dalam islam mulai dari cara berpakaian hingga bersikap. Dunia membuat perempuan-perempuan menjadi bangga dengan gelar Miss dan sebagainya dengan memakaikan perempuan-perempuan tersebut dengan mahkota. Sayang, mahkota mu bukan itu melainkan sesuatu yang telah kamu jual untuk orang menontonnya secara cuma-cuma :(

Contoh lain dari pedihnya menjadi perempuan di era modernis adalah pakaian perempuan tidak lagi menjadi pelindung baginya melainkan hanya sebagai style bahkan strata sosial bisa berpengaruh terhadap style yang ditunjukan yang lagi-lagi itu sama sekali tidak memperlihatkan kehormatan perempuan, pakaian bagi perempuan sekarang bukannya menutup malah membungkus, bukannya melindungi malah menghantui fikiran laki-laki. Merasa tidak percaya diri dengan pakaian yang disyariatkan dengan alibi lingkungan pekerjaan tidak memperbolehkan berpakaian seperti itu, lingkungan perkuliahan saya tidak mendukung dan sebagainya, berkembangnya teknologi serta ilmu pengetahuan ternyata berbanding terbalik dengan akal pikiran manusia, semakin lama manusia memiliki pikiran yang sempit dan tidak berdasar rasional. Hawa nafsu masih menjadi tuhan untuk setiap diri terlebih corporat yang memiliki aturan sampah.

Nyatanya menjadi perempuan yang memiliki pendirian dan komit terhadap itu sekarang tidak mudah terlebih ketika dibenturkan dengan beberapa kondisi yang mendorongnya, sebab tidak yakin dengan diri sendiri, tidak sabar menjalani keterbatasan, tidak siap diremehkan mau tidak mau perempuan masuk kedalam karung korporat dan hidup menjadi budak. Naudzubillah
 
Dengan menuliskan ini saya jadi berfikir untuk yang suka menuntut dihargai dan dihormati tetapi dasarnya kita tidak menghormati diri kita sendiri apakah pantas menuntut demikian ? kalau diri kita aja bisa diatur oleh sebuah kontestasi dan materi apakah pantas kita mengharap empati ? anehnya kita sangat senang diatur oleh zaman tapi tidak dengan Al-qur’an yang padahal jelas bedanya kemana kita kan dibawa oleh keduanya tersebut.