Rabu, 04 November 2020

Perihal Uang dan Untuk Apa Hidup

 

Tentu diumur yang semakin bertambah kita dihadapkan oleh pilihan besar dalam hidup antara kesejahteraan pribadi, keluarga dan masyarakat umum, Tak terelakkan. Menjadi seorang dewasa dan single tentu kamu punya mimpi dan target dalam hidup yang artinya harus selalu diikhtiarkan juga sebagai anak kamu tentunya punya kemauan dan tekad membahagiakan orang tua tentu dalam takaran materi. Pun sebagai kaum sosialis yang dari lahir hidupmu lingkungan sosial sudah menjadi satu kesatuan dengan hidupmu tentu juga kamu ingin memiliki andil dalam hal kesejahteraan mereka entah dalam hal moril maupun materil.

Nah bagi saya pribadi bukan hal mudah melakukan semua hal diatas dengan pola modernisasi zaman yang memberi peluang menjadi kaum apatis, untuk point 1 dan 2 mungkin akan bisa sejalan kalau diukur dengan materi (uang), namun point 3 ? Bagaimana teman teman akan memposisikan diri menjadi pengabdi sosial sedangkan orientasi materi dalam diri kita tinggi ? Apakah peran sosial kita bisa dibayar dengan uang ? Hal yang kurasa cukup kontradiktif. Uang dan teknologi tidak bisa menghapuskan buta aksara teman teman, yang artinya peran moril kamu yang orang-orang butuhkan. Langkah kecil kamu yang menjadi dorongan orang orang untuk belajar.

Saya menulis ini karena melihat betapa banyak orang-orang yang dulunya adalah orang yang sangat berpengaruh dalam tatanan masyarakat lantas harus diam dan kaku dalam persoalan seperti ini dengan alasan sibuk bekerja dan sebagainya pun disaat yang bersamaan saya melihat banyak anak-anak yang semakin kesini pola hidupnya tidak terkontrol dengan baik seperti menjadikan gadget sebagai teman, masa bodoh dengan kebodohan, kekurangan adab dsb. Itu bukan hal sepele, ingat bahwa dunia tidak hadir hanya untuk kamu dan orang orang sebayamu. Kedepannya masih akan banyak generasi generasi baru yang akan tumbuh yang berarti apa yang kamu lakukan serta warisi kepada mereka itu yang akan menjadi acuan hidup mereka. 

Saya pribadi juga manusia yang butuh uang dan tentu menjemputnya dengan bekerja. Namun sedari dulu saya punya prinsip untuk tidak menjadikan orientasi pekerjaan adalah uang, i dont know how to explain more, tapi saya percaya dan yakin kalau segala yang kita lakukan serta dapatkan akan bergantung dari apa yang kita niat atau orientasikan, well itu terwujud :))) setiap saya niatkan saya bekerja untuk ilmu dan pengalaman maka itu yang saya peroleh + bonusnya adalah uang. Saya tidak memposisikan uang sebagai hal yang tidak penting ya, penting bahkan sangat penting akan tetapi bagi saya pribadi keringat dan kerja keras tidak bisa diukur dengan nomimal yang tak seberapa tersebut :) yang pantas untuk membayar semua itu ya pengalaman dan ilmu tersebut. Saya tidak peduli dengan apapun yang lakukan untuk mendapatkan uang (harus halal) selagi saya bisa mendapatkan banyak peluang kebermanfaatan saya akan jalani. Sesimpel itu cara saya menikmati hidup
Ingat bahwa keberadaan kamu yang sudah berilmu sangat penting dalam lingkungan sosial, silahkan menjadi realistis tapi jangan apatis.
Sekian dari ocehan tengah malam ini, 
Sampai ketemu di lingkaran kebermanfaatan :)))
x

Rabu, 10 Juni 2020

Hijab, attitude and social paradigm



       Hai, sudah lama tidak bertegur sapa dengan blog, my other world. Baru ada ide lagi untuk nulis, kali ini mau ngebahas yang santai santai aja about how i feel wearing hijab (bahasanya nyampur nyampur nggak apa apa ya, masih belajar ). Untuk yang belum tahu namaku ira umur 23 tahun, aku menggunakan jilbab patennya sedari Sekolah Menengah Atas (SMA) Kelas 1 jadi udah sekitar 9 tahun berjilbab. Dulu untuk anak anak SMA pada zamanku hijab bukan hal yang mudah dilakuin apalagi di sekolah umum walaupun lingkungan aku islami, dikatain so alim, so suci didepan mata kepala aku sendiri adalah salah satu tantangan untuk tetap berhijab dulu hingga saat sekarang Alhamdulillah.
     Di hampir 1/4 abad umur aku sekarang diumur yang katanya diambang kegalauan tentang pencarian jati diri atau istilahnya "Quarter Life Crisis" hidup dengan ekspektasi orang terhadap diri aku adalah hal yang aku minimalisir terlebih jika itu menyangkut hijab. Entah kalian sadar apa tidak diumur yang hingga sekarang masih banyak orang yang mengharap lebih atas diri kita contoh dengan ungkapan "sayang banget ya dia udah berhijab tapi begini begini, kenapa ya dia keliaran padahal pakaiannya gini gini, kamu tu perempuan dirumah aja sesuai kodratmu, dan bla bla bla" anggapan tersebut tidak salah, tiap orang punya hak berpendapat bukan? Hanya saja yang salah adalah tidak sedikit dari kita jatuh karna anggapan tersebut, cuma terkadang kita mesti mikir hidup kita ada dalam kendali kita, orang boleh berkata a b c bahkan sampai z ya terserah orang tersebut kita hanya perlu mencapai titik pencarian jati diri kita. Analogi sederhana ada org tidak suka makan daun pepaya juga ada orang yang suka bahkan sangat suka makan daun pepaya, salahnya kebanyakan orang yang sangat suka makan daun pepaya memaksa orang yang tidak suka untuk memakannya. Aneh bukan sih? Tiap orang punya privilige atas diri mereka, kenapa mesti kita yang atur suka tidak sukanya orang? Kita hidup dengan kemauan dan perasaan kita aja udah, terlebih kalau diri kamu bukan siapa siapa untuk orang tersebut. Paham?! Semakin dewasa fikiran kita mestinya harus makin bijak menempati segala sesuatu pada tupoksinya, ukuran kaki 38 make sepatu ukuran 40, waras nggak sih?

   Satu hal yang diakui memang ketika kita hidup bermasyarakat bahwa anggapan orang-orang tentang kepribadian dan tingkah laku kita adalah tantangan yang berat, sekali lagi hal tersebut tidak salah karna mereka memiliki keluarga bahkan anak seumuran kita yang beliau khawatirkan anaknya akan seperti kita. Sebuh pandangan klasik, maka bagi saya mengapa hidup harus open minded, berwawasan dan penuh pengalaman. Sebuah kebenaran tidak lahir atas budaya, sebuah kebebasan tidak lahir atas pemberontakan, jiwa yang tahu jalan juang mana yang ia lewati.

"Aku ingin memberi dukungan untuk siapapun yang berjuang pada jalannya menuju mimpi dan target hidupnya, kamu punya hak istimewa untuk membentuk jalan hidupmu seperti apa, hanya perlu ketahui rules dalam berjuang yaitu Iman dan selamat menemukan jalan"

Selasa, 14 Januari 2020

TRAUMA

 cerita seorang anak yang dari kecil tak tahu  rasanya kasih sayang sosok ‘’bapak’’, yah thats me. Walaupun sebenarnya aku juga nggak tahu definisi kasih sayang wujudnya seperti apa. Tapi merasa ada yang kurang dalam bagian hidup iya, ada. Melihat sana sini orang bermain dengan sosok tersebut setiap hari bahkan tiap saat, melihat teman yang setiap hari diantar sekolah oleh sosok tersebut, yah pokoknya melihat kalian sedang tertawa manja dengan sosok tersebut kadang buat aku merasa koq bagian takdir hidup ira gini ya Allah. Seorang anak kecil yang tak tahu sabar, ikhlas akan sangat susah menerima penjelasan apapun bahkan pernah berdo’a untuk ngerasain keluarga yang ‘’utuh’’ juga pernah membayangkan bangun tidur melihat dua sosok mama-papa. Ternyata hanya angan.
   tapi kalau definisi bahagia adalah tertawa, nyaman aku merasakannya walau tanpanya. Ketidaksyukuranku terhadap kehidupan membuat aku selalu mengcompare hidupku dengan orang lain, dan itu ternyata salah. Ya wajar sih dulu kan kecil mana ngerti kayak ginian, duuhh ampun jangan ditiru. Bersyukurnya aku dibesarkan di keluarga yang alhamdulillah selalu menanamkan nilai-nilai agama sejak kecil, yang selalu berfikir segala yang terjadi sudah diatur, bukan Allah menghendaki kesedihan untuk hambaNya, hanya untuk kau merasa bahwa hidup bukan hanya tentang bahagia, juga selalu diingatkan masih banyak orang yang keadaannya lebih buruk dari ini, yang kehilangan kedua orang tuanya. Dan itu jadi titik bangkit buat aku, dari hal tersebut selalu punya mimpi untuk bisa bermanfaat bagi orang lain, untuk belajar tidak mengecewakan orang lain, untuk belajar posisikan orang selayaknya diri kita ingin diposisikan.
  Hal tersebut yang jadi alasan mengapa aku sangat hati-hati dan tidak pernah ingin menjalankan hubungan antara laki-laki dan perempuan sewaktu SMP hingga kuliah ‘’sorry agak sedikit berlebihan, hehe’’ bahkan pernah mikir bahagia bukan hanya tentang pernikahan, banyak hal yang bisa mendefinisikan kebahagiaan dan jalan pernikahan bukan satu-satunya, mengajar anak-anak di pelosok adalah kebahagiaan, jalan-jalan adalah kebahagiaan, melihat mama bahagia adalah kebahagiaan ‘’dulu ya sorry’’. Rasa trauma kelihatannya lebih besar ketimbang ilmu agama tentang pernikahan yang saat itu terfikirkan. Karna melihat proses mama bangkit dari keadaan tersebut yang sangat tertatih, sendiri besarkan dan sekolahkan 3 anaknya, selalu berusaha untuk wujudkan mimpi anaknya dan sekarang ira mau bilang, mama berhasil, mama luar biasa.
  Semakin dewasa semakin realize bahwa hidup punya skenario terbaiknya sendiri, tak perlu di stir gk mau ini, gk mau itu, segala yang ada cukup dijalani. Hidup akan lebih baik jika diterima saja takdirnya. Belajar menjadi versi terbaik dari diri sendiri akan membawa kita ke jalan  yang terbaik.
‘’Terima kasih ya Rabb, sudah diberikan jalan hidup yang seindah ini’’
Terima kasih telah membaca

Assalamualaikum



      Aku ira, anak bungsu dari perempuan hebat di dunia versiku. Usia 23 tahun, kesukaan sampai sekarang masih berkaitan dengan perjalanan, karna hidup di dunia juga sebenarnya perjalanan sih, yang memiliki ujung. So, harus di manfaatkan dong. Karna aku mikirnya gini, hidup ini singkat, dunia ini luas ya masa mau disia siain gitu aja, hehe.
      Aku bukan penulis yang bisa dikutip kata bijak nan indahnya, jadi ketika membaca tulisan tulisan disini jangan banyak berekspektasi untuk menemukan quotes-quotes bijak, wkwk. Ruang blog ini ku hanya ingin jadikan sebagai teman, tempatku mengatakan lapar ketika lapar, senang ketika senang. 

Sekian...