Jumat, 20 Mei 2022

Melangkah Memberi Arti

Ini ingatan yang bertahun-tahun saya simpan rapi dalam memori, sebuah perjalanan kebermanfaatan diri, perjuangan melawan ego dan terapi empati. Ini hanya sedikit cerita dari pilihan yang saya buat atas hidup. 

Throwback ke beberapa perjalanan menempa diri dengan hal-hal sederhana seperti belajar bersama anak-anak pelosok atau pesisir, berletih-letihan berjalanan kaki 6-8 jam menuju sebuah desa dipegunungan, naik perahu untuk mengunjungi anak-anak dipulau, melakukan kunjungan untuk anak-anak korban kebakaran dan menemani anak-anak korban banjir selama satu bulan hingga menjadi Relawan mewakili Dompu disalah satu Yayasan sosial Kemanusiaan Nasional. Alhamdulillah...

Siapa sangka mimpi sederhana yang tercatat sewaktu SMA Allah Ijabah, menjadi manusia dengan pengalaman-pengalaman kebermanfaatan. Sewalaupun pada kenyataannya tidak semudah yang saya tuliskan ini, karena untuk melakukan semua hal tersebut banyak juga hal yang dipertaruhkan, banyak keinginan yang dikubur, ego yang dikikis, kewajiban-kewajiban sebagai mahasiswa yang dilanggar. Namun untuk sekarang saya katakan semuanya worth it. 

Jawaban sederhana saya kenapa ingin hidup dengan perjalanan kebermanfaatan adalah saya tidak tau Allah memberi waktu saya untuk hidup berapa lama, saya berharap diwaktu yang singkat tersebut saya punya amalan yang bisa saya pertanggungjawabkan umur saya dihabiskan seperti apa di dunia. Sebagai manusia apalagi muslim tentu keyakinan adalah pondasi untuk kita menjalani hidup, entah bagaimana atau apakah ada orang yang hidup tanpa keyakinan, dan pilihan hidup yang tertulis ini adalah keyakinan yang ingin selalu saya pupuk sewalaupun mungkin nanti metodenya tidak seperti yang biasa dilakukan. Semoga Allah ridho atas semua pilihan hidup. Aamiin

Memang apa enaknya hidup jadi relawan ? Apalagi diumur yang seharusnya menuntut kita memiliki kemandirian secara finansial ? Bagaimana mengimbangi kebutuhan hidup dengan pilihan kebermanfaatan ? Ada masanya kita hidup untuk orang lain dan ada juga masanya kita hidup untuk diri kita. Semua hal ini sempat menjadi beban fikiran apalagi sebagai perempuan, namun kembali lagi ke keyakinan dan niat bahwa kita tidak akan diminta untuk menjadi saksi atas hidup orang lain ketika nanti di hisab pun orang lain tidak akan menjadi saksi atas hidup kita, sungguh anggota tubuh kitalah sendiri saksinya. Menjalani hidup dengan pilihan kebermanfaatan katakanlah sebagai relawan itu menurut saya profesi yang tak akan mampu dibayar dengan nominal seperti kutipan salah satu tokoh bahwa "kenapa relawan tidak dibayar ? Bukan karena tak bernilai, melainkan tak ternilai" (Anies Baswedan). Apa yang mampu membayar keikhlasan ? Ketika manusia pada umumnya memiliki jam kerja 8-10 jam/hari dan ketika memilih menjadi relawan hampir 24 jam waktu anda harus selalu siap. Hal ini saya rasakan ketika menjadi relawan banjir disalah satu kecamatan di Dompu (Hu'u) bersama tim Muhammadiyah Disaster Manajemen Center (MDMC) ketika saat itu harus melihat langsung isak tangis warga disaat banjir bandang melanda dengan minimnya jumlah relawan karena kedatangan banjir yang diluar prediksi, tempat evakuasi yang tidak mendukung, anak-anak yang harus ditangani karena ditinggal oleh orang tuanya untuk mengevakuasi barang-barang dirumah, ketersediaan logistik yang minim, obat-obatan terbatas, lokasi yang jauh dari perkotaan, duuuhhhh selalu saja menangis jika mengingat kejadian-kejadian saat itu. Dari hari itu tim kami memutuskan untuk bertahan lebih lama hingga tak terasa satu bulan menjadi warga sana. Untuk detailnya sepertinya butuh dibuatkan judul tersendiri sebab sangat banyak hal terjadi dan ingin juga saya bagikan, semoga sabar menunggu :)))

Tak ada manusia yang ingin hidup tanpa arti, anda pasti juga kan ? Namun terkadang kita gagal menemukan apa arti hidup itu sendiri. Let it flow bukan pilihan menjadi manusia apalagi hamba Allah yang mukmin. Butuh peta perjalanan dan untuk membuat peta kan harus ada titik point tujuannya. Sudah punya ?

Tidak banyak kata rupanya bisa saya tuangkan disini, sisanya hanya perasaan syukur serta bahagia atas semua perjalanan tersebut. Terima kasih sudah membuat saya merasa berarti.

Senin, 28 Maret 2022

BADNEWS

 


Digitalisasi, Seksualitas dan Pernikahan Dini adalah kabar buruk yang setiap hari kita saksikan dengan sengaja ataupun tidak, diinginkan ataupun tidak. Dari atas kendaraan kita jumpai manusia dengan gadgetnya sepanjang jalan, ditengah kesenjangan waktu bersama keluarga bukannya membahas tentang mimpi-mimpi masa depan eh justru sepanjang obrolan hanya berisi si A yang dilec*hkan oleh Saudar*nya, si B yang membunuh ibunya atau si C yang nekad minggat dari rumah karena memilih hidup dengan pacarnya yang akhirnya ditinggal kabur oleh pacarnya dalam keadaan hamil. Oh sungguh, bagaimana mungkin asyik bercerita tentang masa depan kalau jalannya telah ditutup dengan berita buruk seperti itu. Apa itu nyata ? ya, tentu dan inilah zaman yang kalian ciptakan. Selamat menikmati

Hidup dengan mimpi adalah salah satu kekayaan diri yang meski syukuri karna tidak semua orang bisa melakukannya namun apakah sekarang kekayaan tersebut masih hidup dalam diri setiap perempuan menjadi tanda tanya sebab kenyataan yang terjadi bahwa banyak perempuan yang harus menghapus paksa mimpi-mimpinya karna ketakutan baik dari dirinya maupun lingkungannya, saya bertemu dengan beberapa orang yang awalnya memiliki mimpi kuliah dikampus impiannya namun harus gagal karena terhalang izin orang tua melepas anak perempuan satu-satunya hidup sendiri dirantauan, juga beberapa kali bertukar cerita dengan teman sebaya bahkan ada yang lebih muda tentang kepedihan mereka mengurus anak-anaknya pasca ditinggal pergi sang suami, apalagi menyaksikan keamoralan anak-anak terhadap orang tua, keluarga, guru mereka sendiri.

Saya tidak mengajak untuk mencari siapa yang salah atau siapa yang benar, tapi dari yang saya fikir dan mungkin juga kalian tentang hal ini adalah kita kurang kendali atas diri kita, sedari kecil kita terbiasa menjadi bebek (ikut-ikutan) teman punya ini kita merengek untuk memilikinya juga tanpa kita tau apakah itu cocok dengan kita atau tidak katakanlah gadget, coba lihat dari umur berapa anak-anak sekarang memilikinya ? memiliki loh ya bukan menggunakan, dari SD! Menurut kalian sematang apa pikiran anak SD memilah informasi yang ada dalam gadget tersebut atau sebijak apa mereka menggunakan Aplikasi didalamnya ? terlebih mungkin di daerah-daerah yang katakanlah masih awam tentang gadget, bagaimana mereka mencerna semua hal tersebut dengan rasional ? saya pernah dibantah karena menyampaikan hal begini ke beberapa anak dengan alibi yang mereka lontarkan kalau  gadget adalah kebutuhan untuk sekolah dan penyemangatnya untuk belajar. Dek, kalian anggap apa orang tua kalian yang bekerja banting tulang ditengah terik menyengat kulit keriput mereka, kalian pandang sebagai apa guru yang berdiri berjam-jam didepan kelas kalian yang berusaha menjelaskan dengan bahasa yang sangat sederhana agar kalian paham padahal itu juga tidak mudah bagi mereka.  

Apa ini hal yang biasa ? tidak bestie, ini adalah kabar buruk dan entah kedepan nanti akan menjadi apa kenyataan pahit ini, apakah berkurang atau justru dianggap hal yang biasa. Hanya kamu, saya dan waktu yang bisa menjawab.

Dari beberapa hal diatas tentu ini menjadi sesuatu yang mesti kita risaukan dan menurutku jika kabar buruk ini ingin kita pangkas berarti kita harus siap terlibat. Jangan tunggu menjadi orang tua atau guru baru akan menjadi teladan dan mengakhiri cerita ini saya teringat dengan salah satu Nasihat Imam Al Ghazali ‘’Didiklah anakmu 25 tahun sebelum ia dilahirkan’’ yang jika dimaknai betapa peran menjadi teladan itu tidak semudah menjadi tiktokers, youtuber atau bahkan selebgram. Butuh effort yang sangat besar dan itu diciptakan dari kita sedini mungkin bukan saat kita menikah atau menjadi ibu.