Selasa, 25 Juli 2023

Hi girl, cantikkan kualitas secantik standar

Perempuan dan percintaan adalah hal yang sama sulit dipahami, iya ga ? wkwk… entah mengapa sayapun sebagai perempuan menyadari hal tersebut rasanya sulit mengungkapkan apa yang diri inginkan dan berharap orang mengerti keinginan tersebut, anehhh. Sepertipun percintaan penuh tebakan kerap kali kita mikir mungkin ini ternyata itu, kayaknya ia ternyata tidak, sepertinya oke ternyata palsu dan banyak lagi hal-hal yang membuat kita bingung dan dengan bijaknya kita (re:perempuan) suka membuat kesimpulan sendiri, iya kan ? padahal mah orang hanya sekedar penasaran eh tapi disambut dengan perasaan daannn akhirnya pusing sendiri, stress sendiri, galau sendiri padahal yang salah ? diri sendiri. Kira-kira dimana letak kekeliruan kita terhadap hal-hal yang membingungkan tersebut ? coba yuuk kita bahas


Kenapa kebanyakan perempuan selalu kalah dalam hal-hal percintaan dalam beberapa kasus perempuan selalu menjadi korban dari kisah percintaan hingga akhirnya memilih mengakhiri hidup karna kekecewaan dan patah hati, sederhana karena kita tidak punya prinsip, kita tidak memiliki batasan untuk orang luar menguasai diri kita sehingga kita kehilangan kendali, kemampuan komunikasi kita terbatas sehingga sulit mengungkapkan kehendak dan manajemen diri, emosi serta mental kita zonk. Analogi sederhananya jika kamu memiliki pohon anggur dan mangga dipekarangan rumah yang akan kamu rawat dan jaga kualitasnya buah yang mana, anggur/mangga ? yang akan kamu berikan dengan mudah ke orang yang mana ? mangga/anggur ? kenapa ? jawab sendiri……………….............

 

Dalam buku seni bersikap bodoh amat saya belajar bahwa kita tidak memiliki hak atas hidup orang lain begitupun orang lain tidak memiliki hak atas hidup kita dan ini jadi prinsip dasar saya untuk bergaul tanpa tendensi apapun sehingga saya tidak memiliki tanggungjawab apapun atas diri dan perasaan orang lain. Sehingga dengan prinsip ini kita akan belajar mengelola diri, emosi serta mental kita, akan memudahkan langkah kita untuk berfikir ini penting apa ngga, ini baik apa ngga, ini dampaknya ke saya, orang tua, keluarga bagaimana. Membatasi akses orang lain terhadap diri kita adalah priceless bukankah anggur sulit didapat dengan harga murah ?

 

Karna kita perempuan, kualitas diri adalah level untuk penentuan hidup.  Satu nasehat yang semua orang tua katakan pada anak perempuan di daerah saya yaitu ‘’taho si rawi ra ruku cou ma da ne’e mu’’ yang kalo diterjemahkan mengandung makna yang sangat dalam namun sayang kata-kata tersebut terkadang hanya jadi angin lalu padahal dibalik nasehat tersebut ada pinta agar anaknya menjadi pribadi yang baik dari orang tua yang memiliki beban tanggung jawab terhadap yang mereka lahirkan. Sedikit cerita dari yang saya alami (bukan perihal baik buruk) bahwa sebelum menikah saya tidak mengetahui banyak tentang orang yang akan menikahi saya (yang menjadi suami saat ini *Alhamdulillah) hanya sedikit memori 10 tahun lalu sewaktu dibangku SMA karena berada dalam satu lingkup organisasi Pelajar Islam Indonesia (PII) dan bantuan dari beberapa teman yang cukup dekat dengan beliau tapi entah mengapa saya yakin dengan orang ini lalu singkat cerita kami menikah dan setelah setahun menikah saya menyadari bahwa memang jodoh itu sesuai kualitas diri kita *sekali lagi ini bukan tentang baik ataupun buruk, banyak hal yang saya sadari bahwa setinggi anak tangga yang kamu naiki ya segitu jatah untuk jodoh yang kamu dapat. Selalu saya pikirkan bagaimana kalau dulu saya tidak berjilbab dengan baik, bagaimana kalau dulu saya tidak patuh beribadah minimal sholat, bagaimana kalau dulu saya tidak menyibukkan diri dengan kebaikan-kebaikan kecil apakah jodoh saya akan sama dengan yang saya dapatkan sekarang ? Alhamdulillah ‘Ala Qulli hall. 

Rabu, 12 Juli 2023

Ternyata menikah itu...

 


Setahun berlalu tulisan terakhir sebelum ini terpublish artinya setahun penuh mencoba menjalani dan menikmati kehidupan tanpa banyak bercakap di social media, teman-teman yang mengenal saya mungkin tahu betul bagaimana ocehan saya berseliweran di social media pada tahun-tahun sebelumnya daaan setiba-tiba berhenti berceloteh wkwk namun teman-teman juga pasti tahu dengan apa yang terjadi, yes I am Married hehe…

Menikah, menjadi istri lalu sekarang menjadi ibu adalah hal yang tidak tertebak oleh saya. Rasanya baru kemarin saya kesana kemari dengan ransel hijau andalan menikmati indahnya pantai, gunung, sawah rasanya baru kemarin saya mondar mandir memakai jas maron berceloteh didalam forum perkaderan IMM rasanya rasanya rasanya sepertinya terlalu banyak yang sudah dirasakan hingga Allah menakdirkan rasanya menjadi istri juga ibu dalam waktu yang tepat, Alhamdulillah…

Setelah mengenal dan gagal, dikenalkan lalu gagal, akhirnya Allah memberikan seseorang yang tanpa perlu perkenalan , wkwk. Saya pun masih tidak menyangka akan menikah dengan sosok ini dan hal ini menambah keyakinan saya bahwa memang jodoh itu tidak datang karna permintaan tetapi ia akan datang karna kepantasan. Sepanjang apapun kita meminta sama Allah untuk menikah jika segala hal dalam diri kita belum pantas untuk menikah ya tidak akan,  ini based on my story jadi sedikit subjektif tapi ini fakta. Menikah bukan persoalan umur, bukan persoalan status social, bukan persoalan karir jabatan apalagi, menikah itu takdir gesss. Lihat bagaimana kisah-kisah terdahulu dalam perjumpaannya dengan jodoh katakanlah kisah putri Rasulullah SAW Sayyidah Fatimah Az-zahra dengan Ali bin Abi Thalib jika diukur dengan kedudukan dunia (kekayaan dll) apakah mungkin ? sedangkan sebelum Rasulullah menikahkan anaknya dengan Ali,  Abu Bakar dan Umar bin Khatab yang dari segi harta dan kedudukan jauh lebih tinggi dari Ali datang melamar putrinya tapi tidak diterima oleh Rasulullah. Jodoh itu Ajaib, membuat kita takjub dengan jalannya bisa saja teman semasa sekolah, teman semasa kecil, teman kerja, teman organisasi hanya perlu dibuka jalannya. Sisihkan ruang penerimaan.

 

Jadi bagaimana pernikahan ? seru gesss, wkwk. Menikmati banyak rasa dalam satu waktu. Secara spesifiknya pernikahan sepertinya tidak bisa saya jabarkan karena terlalu subjektif  seperti yang orang katakan bahwa pernikahan itu hanya manis diawal itu juga subjektif setiap rumah tangga memiliki cerita tersendiri yang intinya tidak selalu baik juga tidak melulu buruk asal selalu memahami peran dan kedudukan masing-masing dalam rumah tangga dan mau sama-sama belajar tentunya karna setiap hari bahkan setiap saat rasanya selalu di uji oleh Allah kalau enggan belajar bagaimana bisa berhasil dengan ujiannya ? ah celotehnya terlalu banyak, mohon ampun wkwk.