Sabtu, 30 Januari 2021

Syurga itu luas, jangan serakah!





     Akhir-akhir ini kata hijrah menjadi trend yang manuver dikalangan manusia urban ditambah lagi dengan hadirnya banyak influencer-influencer yang menggaungkan hijrah tapi juga menjadi salah satu model setelan hijab, alhasil hijrah dalam pandangan manusia urban adalah pergantian model pakaian. Bukan begitu ? Juga trend hijrah seolah menjadikan manusia berkelompok-kelompok sehingga orientasi hijrah yang semestinya luas justru menjadi sempit dan individualis. Kenapa hijrah membuat orang jadi ansos (anti-sosial) ? Kenapa hijrah menjadikan manusia semakin cuek. Rentetan pertanyaan-pertanyaan diatas muncul dalam benak saya akhir-akhir ini ketika melihat banyak manusia yang berganti status pakaian dari pendek ke panjang, dari kaos ke piyama dsb, seperti terjadi pergeseran makna dari kata hijrah tersebut atau seperti yang saya sampaikan diatas doktrin dari brand ambasador olshop-olshop  pakaian syar'i yang begitu kuat sepertinya. Entah~ 

     Kontesknya saya tidak ingin membahas lebih mendalam persoalan pakaian, sejatinya hal tersebut kembali ke kesanggupan pribadi untuk berpakaian model seperti apa dengan catatan tidak melewati batas yang semestinya. Oke kita kembali ke topik hijrah saja. Sebetulnya apa itu hijrah ? Secara harfiah, 'hijrah' berarti pindah atau bergerak dari satu lokasi ke lokasi lainnya.

     Dalam sejarahnya, hijrah merujuk pada tradisi Rasulullah SAW yang melakukan perpindahan dari Mekkah ke Madinah. Perpindahan Rasulullah SAW dari Mekkah ke Madinah itu dilatarbelakangi oleh keinginan untuk mendapatkan tempat dakwah yang baru serta situasi yang lebih menjanjikan daripada sebelumnya yang artinya orientasi yang ingin dicapai adalah bagaimana islam yang Rasulullah SAW pahami bisa juga diterima oleh orang lain. Lalu Bagaimana makna hijrah dalam tradisi Rasulullah SAW dikontekstualisasikan dalam kehidupan modern saat ini? Hijrah sebagai sebuah gerakan secara fisik sangat berkaitan dengan gerakan yang bersifat spiritual. Artinya, keberhasilan berhijrah tidak semata-mata ditentukan oleh perpindahan atau perubahan fisik. Dalam konteks modern saat ini, hijrah dipahami sebagai upaya untuk mengubah perilaku serta mental keislaman. 

      Apakah makna dari kata hijrah  mengajarkan manusia menjadi individualis ? Kenapa bagi orang² yang katanya sudah berhijrah seolah dianggap kesalahan untuk berkumpul dengan orang² yang belum hijrah ? Syurga itu luas, jangan serakah mau dikuasain sendiri. Ya kalo hijrah mu hanya untuk diri kamu bagaimana orang² disekitarmu ? Dibiarkan hidup dalam kebutaan ? Dibiarkan melakukan kesalahan ? Dibiarkan jauh dari Allah ? Sekali lagi, syurga itu luas. Bagaimana orang bisa mengetahui nikmatnya islam dan iman kalau kitanya enggan memperlihatkan.

      Hijrah sangat berkaitan dengan sikap, sifat dan martabat. Yaaa. Tapi kurasa pointnya bukan itu. Kamu berlomba-lomba memperbaiki dirimu tapi tetanggamu tidak tahu apa itu islam itu nggak worth it. Kamu membiarkan orang dalam kebodohan dan kamu berlari sendiri mengejar syurga, itu hal yang keliru. Kalau orang lain tidak bisa menerima manfaat dari perubahanmu, lalu apa gunanya hidup ? 


Tolong dong, buka mata teman-teman. Sadar satu hal bahwa kamu diciptakan bukan untuk menjalani hidup sekehendakmu. Ada amanah untuk kamu Yaitu Amar Ma'ruf Nahi Munkar dan itu tidak bisa dikerjakan secara individualis!


2 komentar: