cerita seorang anak yang dari kecil tak tahu rasanya kasih sayang sosok ‘’bapak’’, yah thats me. Walaupun sebenarnya aku juga nggak tahu definisi kasih sayang wujudnya seperti apa. Tapi merasa ada yang kurang dalam bagian hidup iya, ada. Melihat sana sini orang bermain dengan sosok tersebut setiap hari bahkan tiap saat, melihat teman yang setiap hari diantar sekolah oleh sosok tersebut, yah pokoknya melihat kalian sedang tertawa manja dengan sosok tersebut kadang buat aku merasa koq bagian takdir hidup ira gini ya Allah. Seorang anak kecil yang tak tahu sabar, ikhlas akan sangat susah menerima penjelasan apapun bahkan pernah berdo’a untuk ngerasain keluarga yang ‘’utuh’’ juga pernah membayangkan bangun tidur melihat dua sosok mama-papa. Ternyata hanya angan.
tapi kalau definisi bahagia adalah tertawa, nyaman aku merasakannya walau tanpanya. Ketidaksyukuranku terhadap kehidupan membuat aku selalu mengcompare hidupku dengan orang lain, dan itu ternyata salah. Ya wajar sih dulu kan kecil mana ngerti kayak ginian, duuhh ampun jangan ditiru. Bersyukurnya aku dibesarkan di keluarga yang alhamdulillah selalu menanamkan nilai-nilai agama sejak kecil, yang selalu berfikir segala yang terjadi sudah diatur, bukan Allah menghendaki kesedihan untuk hambaNya, hanya untuk kau merasa bahwa hidup bukan hanya tentang bahagia, juga selalu diingatkan masih banyak orang yang keadaannya lebih buruk dari ini, yang kehilangan kedua orang tuanya. Dan itu jadi titik bangkit buat aku, dari hal tersebut selalu punya mimpi untuk bisa bermanfaat bagi orang lain, untuk belajar tidak mengecewakan orang lain, untuk belajar posisikan orang selayaknya diri kita ingin diposisikan.
Hal tersebut yang jadi alasan mengapa aku sangat hati-hati dan tidak pernah ingin menjalankan hubungan antara laki-laki dan perempuan sewaktu SMP hingga kuliah ‘’sorry agak sedikit berlebihan, hehe’’ bahkan pernah mikir bahagia bukan hanya tentang pernikahan, banyak hal yang bisa mendefinisikan kebahagiaan dan jalan pernikahan bukan satu-satunya, mengajar anak-anak di pelosok adalah kebahagiaan, jalan-jalan adalah kebahagiaan, melihat mama bahagia adalah kebahagiaan ‘’dulu ya sorry’’. Rasa trauma kelihatannya lebih besar ketimbang ilmu agama tentang pernikahan yang saat itu terfikirkan. Karna melihat proses mama bangkit dari keadaan tersebut yang sangat tertatih, sendiri besarkan dan sekolahkan 3 anaknya, selalu berusaha untuk wujudkan mimpi anaknya dan sekarang ira mau bilang, mama berhasil, mama luar biasa.
Semakin dewasa semakin realize bahwa hidup punya skenario terbaiknya sendiri, tak perlu di stir gk mau ini, gk mau itu, segala yang ada cukup dijalani. Hidup akan lebih baik jika diterima saja takdirnya. Belajar menjadi versi terbaik dari diri sendiri akan membawa kita ke jalan yang terbaik.
‘’Terima kasih ya Rabb, sudah diberikan jalan hidup yang seindah ini’’
Terima kasih telah membaca
tapi kalau definisi bahagia adalah tertawa, nyaman aku merasakannya walau tanpanya. Ketidaksyukuranku terhadap kehidupan membuat aku selalu mengcompare hidupku dengan orang lain, dan itu ternyata salah. Ya wajar sih dulu kan kecil mana ngerti kayak ginian, duuhh ampun jangan ditiru. Bersyukurnya aku dibesarkan di keluarga yang alhamdulillah selalu menanamkan nilai-nilai agama sejak kecil, yang selalu berfikir segala yang terjadi sudah diatur, bukan Allah menghendaki kesedihan untuk hambaNya, hanya untuk kau merasa bahwa hidup bukan hanya tentang bahagia, juga selalu diingatkan masih banyak orang yang keadaannya lebih buruk dari ini, yang kehilangan kedua orang tuanya. Dan itu jadi titik bangkit buat aku, dari hal tersebut selalu punya mimpi untuk bisa bermanfaat bagi orang lain, untuk belajar tidak mengecewakan orang lain, untuk belajar posisikan orang selayaknya diri kita ingin diposisikan.
Hal tersebut yang jadi alasan mengapa aku sangat hati-hati dan tidak pernah ingin menjalankan hubungan antara laki-laki dan perempuan sewaktu SMP hingga kuliah ‘’sorry agak sedikit berlebihan, hehe’’ bahkan pernah mikir bahagia bukan hanya tentang pernikahan, banyak hal yang bisa mendefinisikan kebahagiaan dan jalan pernikahan bukan satu-satunya, mengajar anak-anak di pelosok adalah kebahagiaan, jalan-jalan adalah kebahagiaan, melihat mama bahagia adalah kebahagiaan ‘’dulu ya sorry’’. Rasa trauma kelihatannya lebih besar ketimbang ilmu agama tentang pernikahan yang saat itu terfikirkan. Karna melihat proses mama bangkit dari keadaan tersebut yang sangat tertatih, sendiri besarkan dan sekolahkan 3 anaknya, selalu berusaha untuk wujudkan mimpi anaknya dan sekarang ira mau bilang, mama berhasil, mama luar biasa.
Semakin dewasa semakin realize bahwa hidup punya skenario terbaiknya sendiri, tak perlu di stir gk mau ini, gk mau itu, segala yang ada cukup dijalani. Hidup akan lebih baik jika diterima saja takdirnya. Belajar menjadi versi terbaik dari diri sendiri akan membawa kita ke jalan yang terbaik.
‘’Terima kasih ya Rabb, sudah diberikan jalan hidup yang seindah ini’’
Terima kasih telah membaca
